BANJARMASIN aktualkalsel.com–Dalam sejarah Islam Perang Tabuk tercatat sebagai perang terakhir yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Sekaligus perang yang paling berat karena berlangsung di medan yang jauhnya lebih 700 kilometer dari Madinah di musim panas pula.
“Kondisi yang sulit ini sangat dipahami oleh Rasulullah selain musyh yang dihadapi adalah Kerajaan Romawi yang kala itu dipimpin Kaisar Heraklius,” ujar Ustad Rahmat Fauzan Azhari di hadapan jamaah Sholat Magrib Masjid Al Jihad Banjarmasin Selasa 15 Februari 2022.
Menurut Ustad Rahmat Fauzan, itulah saat menjelang panen buah kurma dimana kebiasaan penduduk Madinah bersantai sambil menikmati panenan kurma rutop atau kurma segar. Namun mereka harus merelakan kesempatan indah itu karena menenuhi panggilan perang oleh Rasulullah.
Sementara persiapan yang ada, ujar ulama ini, sangat sangat terbatas baik bekal untuk makanan ataupun hewan tunggangan untuk umat Islam menuju Romawi yang jaraknya sangat jauh itu.
Dalam kondisi yang sangat terbatas ini, Rasulullah pun naik mimbar dan menyerukan sedekah untuk kaum muslimin sebagai persiapan untuk Perang Tabuk tersebut. maka berbondong bondonglah parasahabat Rasulullah dan umat Islam lainnya untuk menyedekahkan apa apa yang mereka punya mulai dari sekilo kurma sampai ada yang meyumbang seribu dinar atau setara dengan lebih 4 kilogram emas. Itulah bentuk sedekah yang paling besar untuk Perang Tabuk.
Siapa kah penyumbang terbesar Perang Tabuk itu?
“Dialah pengusaha terkenal di masa itu, sahabat sekaligus menantu Rasulullah yaitu Ustman bin Affan,” jelas Ustad Fauzan lagi.
Ustman mebawa seribu kepingan dinar yang terbuat dari emas murni itu menggunakan jubahnya sebagai pembungkus. Saking tergesa gesanya merespons seruan Rasulullah, beliau asal ambil saja kain pembungkusnya.
Menerima sedekah Ustman yang begitu banyak, sampai sampai Rasulullah takjub hingga beliau membalik balik kepingan emas tersebut. Tetapi sumbangan Ustman dan sahabat lainnya.
rupanya masih belum mencukupi untuk keperluan perang, hinggaRasulullah masih meneruskan seruannya untuk sumbangan umat Islam.
Mengetahui sumbangan belum mencukupi, Ustman bin Affan berdiri dan menyatakan akan menyumbangkan 200 ekor untanya untuk kendaraan menuju medan perang yang akan dipimpin Rasulullah itu. Ternyata Rasulullah masih juga berkhutbah menyerukan sedekah muslimin yang artinya persiapan yang ada belum mencukupi.
“Untuk ketiga kalinya Ustman bin Affan berdiri untuk menyumbangkan lagi 100 ekor untanya sehingga dari sahabat yang satu ini disumbangan seribu dinar, setara 4 1/4 kilogram emas plus 300 ekor unta. Jumlah yang paling besar dalam sumbangan itu,” ujar Ustad Fauzan.
Hingga Rasulullah bersabda untuk sedekah Ustman yang luar biasa ini: “setelah kejadian ini, sebesar apapun kesalahan yang dilakukan Ustman bin Affan maka akan mencelakannya dan diampuni Alloh SWT”
Namun, Ustman bukannya bersantai dengan jaminan Rasulullah tadi, melainkan justru semakin meningkatkan ketaqwaannya kepada Alloh SWT. Kekayaan Ustman penuh keberkahan dari Alloh, warisannya hingga saat ini ada di Madinah berupa aset ekonomis yang dikelola pemerintah.
Perang Tabuk disulut oleh rencana Kaisar Romawi Heraklius untuk menyerang muslimin Madinah. Romawi saat itu menjadi satu satunya negara terkuat di Eropa. Rencana itu didengar Rasulullah yang hanya mempunyai pilihan satu dari dua alternatif : diserang atau menyerang! Dan Rasulullah memutuskan untuk menyerang karena bila diserang berarti tentara Romawi dalam keadaan sangat siap.
“Strategi Rasulullah menyerang ternyata tepat, dalam Perang Tabuk pasukan muslimin menaklukan Romawi,” ujar ulama di Banjarmasin ini.(uumsri)


















