TANAH BUMBU, aktualkalsel.com – Saat ini pelayanan air bersih PDAM Bersujud Tanah Bumbu belum maksimal. Dari jumlah total penduduk yang ada hanya 72 persen terlayani, sisanya 28 persen belum, terutama yang berada di daerah ujung.
” Perlu digarisbawahi, pengelolan air minum di Tanah Bumbu, ada yang dikelola PDAM Bersujud dan Kelompok Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum ( SPAM ) di desa,” Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Tanah Bumbu Amruddin, ST. kepada wartawan Radio Swara Bersujud ( RSB ), Jumat ( 1/7/2022 ), usai mengikuti pertemuan para kepala dinas beserta jajarannya dengan Bupati Tanah Bumbu Zairullah Azhar.
Menurut Amru — panggilan akrab Kabid Cipta Karya — dalam upaya peningkatan air bersih, pihaknya ikut didalamnya untuk memberikan sistem pelayanan yang baik.
Penyedian air besih, merupakan salah satu pelayan dasar untuk kebutuhan masyakat.
” Penyedian air bersih, sistem air minum perkotaan dikelola PDAM dan desa dikelola kelompok SPAM desa,” katanya.
Dikatakan, kelompok pengelolaan SPAM di desa biasanya ditangani warga sendiri.
Manakala pelayanan air bersih di desa tersebut tidak dapat terjangkau PDAM , maka kelompok inilah yang menghandlenya.
Sebab itu, ungkap Amru, pihaknya
akan membangunkan sistem pengelola SPAM yang dibentuk oleh desa. Pelayanannya sama dengan PDAM.
Dikatakan, kelompok pengelolaan SPAM di desa biasanya ditangani warga sendiri.
Manakala pelayanan air bersih di desa tersebut tidak dapat terjangkau PDAM , maka kelompok inilah yang menghandlenya.
Bagi desa yang belum terjangkau pelayanan air minum, seperti desa Dadap dan Tamunih, pihak Cipta Karya akan membangun sistem pengelolan air besih.
Apalagi dana dari APBN tahun ini akan dikucurkan untuk membangun sistem pengelolan, dimana hanya SPAM yang dikelola desa.
Untuk membangun sistem perlu perhitungan, karena investasi lebih besar dari jumlah masyarakat yang dilayani.
Investasi untuk satu masyarakat bisa mencapai kurang Rp 4-5 juta.
Misal dibangun sistem pengelolaan dengan dana Rp1 miliar, maka yang bisa terlayani sebanyak 200-300 orang. Sementara itu, ada desa yang penduduknya tidak sampai 100 orang.
” Untuk itu, maka kita memperiotaskan yang sekiranya investasi memenuhi dulu,” demikian Amru. RSB-01/edwan

















