BANJARMASIN, aktualkalsel.com — Lulusan STMIK Indonesia Banjarmasin diharapkan menjadi leader di masyarakat dan mampu menghadapi era disrupsi akibat revolusi industri ke-4 ( Revolusi Industri 4.0, red ) yang memberikan pengaruh signifikan terhadap dunia pendidikan tinggi di Indonesia.
Demikian ditegaskan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi ( LLDIKTI ) Wilayah XI Kalimantan Muhammad Akbar kepada wartawan, Sabtu ( 6/8/2022 ), di HBI Banjarmasin.
Hal itu ditegaskannya usai Sidang Terbuka Senat STMIK Indonesia Banjarmasin dalam rangka Dies Natalis XXX dan Wisuda XXVI Program Studi Manajemen Informatika ( D3 ), Komputerisasi Akuntansi ( D3 ), Sistem informasi ( S1 ), dan Teknik Informatika ( S1 ) yang dipimpin ketuanya Husnul Maad.
Dalam wisuda tersebut ditegaskan, STMIK meluluskan 230 mahasiswa baru.
Perguruan tinggi sendiri memiliki tanggung jawab dalam pembangunan pendidikan nasional, dan harus menunjukkan peran yang signifikan dalam Revolusi Industri 4.0 ini khususnya dalam bidang sains dan teknologi.
” Perguruan tinggi menjadi benteng utama dalam pelaksanaan SDM unggul ini harus punya strategi khusus,” kata Muhammad Akbar.
Jadi, tegas Muhammad Akbar, diharapkan para lulusan STMIK Indonesia Banjarmasin bisa beradaptasi dengan likungannya dan menjadi harapan kedepannya, baik keluarga dan lingkungan kantor bagi mereka yang sudah bekerja.

Sementara itu, Bupati Tanah Bumbu Zairullah Azhar — selaku ketua yayasan — diwakili Sekda Tanah Bumbu Ambo Sakka mengatakan, ada tiga hal yang perlu dimiliki para wisudawan.
Pertama harus memiliki kualitas, knowledge-nya dan skillnya bagus.
Kedua, memiliki daya saing. alumni STMIK Indonesia tahun ini Banjarmasin sebanyak 230 orang, mereka ini akan bersaing memperebutkan lapangan kerja. Belum lagi dari pihak luar yang ikut bersaing.
Berdasarkan pengalamannya selama ini, untuk memperebutkan kuota CPNS saja misalnya, jumlah yang mendaftar sebanyak 7.000.000 orang, yang diterima cuma 300 orang.
Demikian juga dengan P3K, yang diterima cuma 70 orang, sedangkan yang mendaftar 1.000.000 orang.
Ambo Sakka mengaku sedih, setiap seleksi penerimaan CPNS atau P3K di Tanah Bumbu, yang banyak lulus itu dari perguruan tinggi yang ada di luar Kalimantan Selatan.
Ketiga, human relation. Itu sangat mempengaruhi ketika para wisudawan sudah bekerja.
” Orang dekat dengan bupati atau sekda, cara kerjanya dan hubungan mereka akan mudah, dan beda dengan orang tidak dikenal atau belum dikenal,” ungkapnya.
Tapi itu harus diingat, tegas Ambo Sakka, bukan bentuk nepotisme tapi karena human relation memang bagus. RSB-01/edwan



















