BANJARMASIN aktualkalsel.com–Abdul Latif bin Abdul Rohman seorang pensiunan. Kini tinggal di sebuah rumah cukup luas di Kota Jeddah , Saudi Arabia, dengan tiga istrinya yang semuanya perempuan Indonesia.
Rukun dan guyup.
Bukan mereka tang mengatakan demikian tetapi itulah diskripsi setiap orang yang mengenali rumahtangga seorang suami dengan tiga istri ini. Demikian pula yang disebutkan youtuber Indonesia disana Salam, di chanel nya Sahabat Salam yang berkesempatan mewawancari Abdul Latif bersama ketia istrinya di rumah mereka di Jeddah beberapa waktu lalu.
Koq bisa rukun tiga istri tinggal satu atap? Ga ada rasa cemburu atau gimana?
“Awalnya cemburu sih ada, tetapi kami sudah saling mengetahui, menerima dan menjalaninya sesuai ajaran Islam,” ujar Ira, istri kedua, perempuan asal Jawa Barat.
Lalu apa rahasia yang dipegang Abdul Latif hingga bisa ‘mendamaikan’ hati dan raga tiga istrinya dalam satu rumah?
“Adil, jujur, terbuka dan bertanggungjawab,” ujar pria yang usianya jauh lebih tua dari istri istrinya ini. Itulah menurut dia, para istri harus tinggal satu atap agar saling mengetahui sifat suami mereka sehari hari.
“Kalau beda rumah justru bisa menimbulkan sak prasangka di antara mereka,” ujar pria ini lagi.
Sebenarnya bukan hanya itu, Abdul Latif memiliki ilmu istimewa yang jarang dimiliki pria lain di dunia ini. Dia seorang syekh muslim yang berkualitas. Lahir di Kota Mekkah kemudian berpindah ke Jeddah. Orangtuanya adalah seorang ulama hafidz. Dia pun demikian. Abdul Latif bahkan tercatat sebagai seorang pengajar di sebuah pendidikan ilmu Alquran di Jeddah. Aktif berdakwah lisan, harta dan perlakuan sehari hari.
Tiga metode dakwahnya inilah yang kemudian membawanya sampai di Indonesia. Bahkan di negeri para istrinya ini dakwahnya semakin berkualitas. Kedermawannya menyertai dimana dia membuka dakwah. Dia bagikan ilmu tentang menjadi seorang muslim yang sesungguhnya. Dia santuni mereka yang fakir dan istimewanya, selama belasan tahun berdakwah di Tanah Air, Abdul Latif mendirikan tujuh masjid dan dua mushalla di Jawa dan Sumatera.
Dakwahnya di dua pulau inilah yang mempertemukannya dengan tiga perempuan yang kemudian menjadi istrinya. Tiga perempuan yang jatuh cinta kepada syekh karena kualitas kemusliman pria asal Mekkah ini. Padahal kala itu beda usia mereka cukup jauh.
“Ketika hendak melamar saya, dia berkata apa adanya kepada keluarga , seperti sudah punya dua istri dan sebagainya. Tetapi saya dan kekuarga justru semakin percaya pada syekh,” ujar perempuan yang minta disebut namanya ummi saja, panggilan perempuan Arab yang sudah bersuami.
Istri ketiganya ini berasal dari Lampung. Istri pertamanya dari Lumajang dan yang kedua dari Jawa Barat. Ketika Syekh Abdul Latif merasa dakwahnya di Indonesia cukup, dia kembali ke Jeddah dengan memboyong tiga istri serta senua anak anaknya untuk tinggal bersama.
Di Jeddah, syekh membali menjalani tugas dakwahnya sebagai pengajar pendidikan tahfidz. Menjadi khatib dan imam di masjid serta berbagi ilmu yang disebutnya sebagai ‘ilmu untuk memperkuat keimanan setiap muslim’. Namun, beberapa tahun terakhir kesehatannya menurun karena penyakit jantung. Kini dia menjalani masa pensiun dengan tunjangan dari pemerintah yang ukuran materinya lebih dari cukup untuk menghidupi tiga istri dan hampir sepuluh anak dengan kondisi kehidupan sosialnya di atas tata rata ukuran Kota Jeddah: rumah yang luas dan lapang, kendaraan siap menghantarkan kemana keperluan, materi tak kekurangan. Plus jatah liburan ke Indonesia bagi ketiga istrinya setiap tahun bergantian.
“Di musim pandemi ini kami tak bisa pulang kampung istri,” ujar Syekh Abdul Latif.
Tetapi, bukan itu yang membuat ketiga istri bangga dan bahagia mendampingi sang syekh. Melainkan karena semua anak anak mereka adalah menjadi tahfidz Alquran, dengan ilmu dan prilaku yang mewarisi yang ayah.
Poligami yang dijalani Syekh Abdul Latif adalah piligami sesuai Islam, bukan tuntunan yang lain dari itu.(uumsri)




















