BANJARMASIN aktualkalsel.com–Serombongan karyawan memasang foto gowes di akun medsos nya dengan kapsyen: healing duluu …
Adalagi yang menulis begini: ‘akhirnya bisa juga healiiing’. Yang ini untuk foto kulineran dengan view obyek wisata alam. Bahkan ada yang membagikan status lucuu: healing tipis tipis!
Kata dari Bahasa Inggris itu kini menjadi tren di kalangan pegiat media sosial. Seolah berlomba untuk memamerkan foto foto yang mereka sebut sebagai ‘healing’.
“Istilah healing sekarang terlalu salah dipahami. Apa apa healing. Padahal cumaliburan refreshing atau jalan jalan disebut healing untuk menghilangkan kebosanan/suntuk atau sedih, seduatu yang wajar,” komentar Dominic Suwito di tayangan youtube Rhenald Kasali yang membahas tentang salah kaprah pemakaian istilah ‘healing’.
Dalam tayangan itu mengurai, manusia yang hidup di era digital dan media sosial, banyak yang dengan mudah mengaku dirinya perlu ‘healing’ perlu ‘self reward’ hanya karena bekerja seperti halnya orang lain bekerja.
“Padahal penggunaan kata ‘healing’ tidak untuk masalah sesederhana itu yaitu pekerjaan seperti orang kebanyakan,” ujar Rhenald Kasali.
‘Healing’ menurut penjelasannya, adalah digunakan untuk upaya mengatasi permahalan yang pelik berkaitan dengan problema masa lalu yang panjang dan mendalam hingga terbawa sampai sekarang.
“Biasa disebut ada luka batin sehingga diperlukan ‘healing’. Sesuatu luka batin yang serius, stres berat,” jelasnya.
Kemudian dalam proses ‘healing’ itu juga diperlukan peran orang ketiga seperti fsikolog. Jadi tidak mungkin lah ‘healing’ dengan seru seruan, ketawa ketiwi.
“Jangan sampai terjadi healing bohong bohongan, healing pura pura, seperti juga flexing,” ujarnya.
Nah, dengan penjelasan sang profesor bidang ilmu manajemen alumnus Univercity Illinois Urbana ini, masih mau yang lagi refreshing posting di medsos bahwa sedang ‘healing’? Atau bisa bisa jadi kapok! (uumsri)




















