BANJARMASIN
aktualkalsel.com—Mungkin inilah warung gratis yang paling keren. Lokasinya di tepi jalan besar, di sebuah ruko yang didesain mirip lobi hotel berbintang atau restoran.
Meja dan kursinya ditata ala kafe, untuk pria dan wanita dipisahkan dengan skat kayu setinggi manusia dewasa berdiri.
Inilah warung (ruko) makan gratis untuk siapa saja, buka hampir sepanjang hari kecuali Minggu menjadi hari libur.
Namanya warung gratis uwais, di kawasan Jatinangor, Bandung. Jehadirannya sejak pandemi copid sudah ramai menjadi liputan dan pemberitaan khususnya media sosial. Kerennya lagi, pelayan di sini semuanya pakai uniform, ramah pula. Bahkan ada seorang yang bertugas khusus membukakan pintu kaca, menyambut warga yang datang untuk makan gratis.
Menunya pun berwibawa, nasi putih ukuran kenyang orang dewasa, satu telur masak bumbu, satu potong tempe mendoan seukuran hp, plus sayur kuah atau oseng. Di hari berikutnya telur bisa diganti dengan ayam atau ikan. Setiap warga yang datang hendak makan dilayani bak pembeli istimewa, ketika pulang diucapkan pula terima kasih.
“ Besok kesini lagi yaa,” ujar pelayan.
Karena musim pandemi, maka prokes pun diberlakukan sebelum masuk seperti cuci tangan dan pakai masker.
“Ini memang gratis tanpa syarat,” ujar pemilik Warung Uwais, Abdullah Tito seperti dikutip dari kompas.com pertengahan Oktober 2021.
Tito menyebut niat ikhlasnya sebenarnya sudah lama ada tetapi baru terealisasi di masa pandemi ini.
“Terpanggil aza tuk membantu yang kesusahan selama pandemi,” ujar pengusaha alat alat fitnes ini.
Alhamdulillah, di musim pandemi ini, ketika perekonomian masyarakat banyak menurun, pemuda ini bisnisnya justru melesit naik. Dan berbagi adalah sebagai rasa syukurnya.
“Kalau biaya warung gratis ini murni dari saya pribadi, cuma yang mengelola manajemen warung seperti belanja adalah kakak saya,” ujarnya.
Untuk melayani “pengunjung istimewa’ ini, menurut Tito ada lima karyawan yang membantu.
Ketika orang membaca nama ‘Uwais’ untuk warung gratis ini, maka ada riwayat tentang satu nama istimewa yaitu pemuda asal Yaman yang sangat rindu Rasulullah namun tidak pernah bertemu Rasulullah karena hidup di dua negeri berjarak jauh.
Namun Rasulullah menyanjungnya karena ketakwaannya dan baktinya kepada sang ibu. Dan dengan keistimewaan yang diberikan Alloh, Rasulullah mengetahui secara detail tentang Uwais, mulai kehidupan ekonominya sampai tanda tanda terkecil yang melekat di tubuh berkulit hitam legam ini.
Pria ini hidup hanya bersama ibunya yang buta, secara fisik dan strata sosial ekonomi bukan siapa siapa. Tidak ada yang bisa ‘dipandang’. Namun disebut Rasulullah mempunyai keistimewaan yaitu doanya sangat mustajab, sehingga para sahabat utama berburu Uwais minta didoakan. Sahabat sekelas Abu Bakar dan Umar bin Khatab bahkan mendatangi dan memeriksa setiap rombongan pedagang yang datang dari Yaman ke Madinah hanya untuk mencari Uwais.
“Carilah Uwais dan mintalah doa padanya,” ini anjuran Rasulullah.
Riwayat tentang Uwais yang paling menggugah keimanan adalah ketika sang ibu berhajad untuk bisa ke Mekkah melaksanakan ibadah haji. Jarak Yaman ke Mekkah tentu bukan main main jauhnya, padahal Uwais hanya punya satu cara untuk kesana yaitu jalan kaki.
Demi hajad sang ibu, Uwais mulai membeli satu lembu seberat ibunya. Lalu mengangkatnya turun naik gunung hingga dia dianggap sudah gila oleh warga sekitarnya. Itu dilakukannya setiap hari selama delapan bulan sebagai latihan otot agar kuat menggendong ibunya dari Yaman ke Masjidil Haram, tawaf dan sai di sana.
Uwais al Qarni adalah nama lengkapnya. Dia meninggal ketika sudah berhasil mempopong sang ibu berhaji dan sudah mendahuluinya. Ketika itu masyarakat Yaman terpana karena sangat banyaknya orang yang berebut ingin menyelenggarakan jenazahnya. Mereka itulah para malaikat.(uumsri)


















