BANJARMASIN aktualkalsel.com–Rekaman gelombang tsunami Aceh 2004 yang dibadikannya dari lantar 2 rumah sang paman yang seorang perwira polisi itu, hari berikutnya membuat dunia shock sekaligus duka. Perjuangan Cut Putri menyelamatkan handycam-nya harus menyisihkan mayat mayat yang bergelimpangan.
Cerita flashback 18 tahun lalu ditayangkan oleh serambinews. Bagaimana dia dan satu keluarganya memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka yang sudah dikelilingi lumpur serta sampah reruntuhan bangunan yang diseret banjir tsunami itu.
Menjelang tengah hari, gelombang yang membawa reruntuhan sudah reda. Namun pasang belum lagi surut.
“Kami memutuskan untuk keluar. Mencoba mencari tiga anggota keluarga yang tak sempat naik ke lantai 2. Astaga, mayat kami temui dimana mana, ada yang utuh, ada yang hanya kaki atau kepala. Kami membalik setiap mayat yang tertelungkup, kalau kalau itu saudara kami. Ternyata tak ada,” ujar Cut Putri dalam rekamanan itu.
Perjalanan yang tidak mudah. Bertemu dengan orang orang yang bertujuan sama ingin mencari keluarganya yang hilang. Saat itu mereka berpapasan dengan mobil dari kota yang hendak mencari keluarganya.
“Kami katakan tidak ada akses, semua tertutup,” cerita Cut lagi.
Di tengah duka dan kepanikan luar biasa itu, ternyata masih ada ancaman kedua yang belum diketahui apakah lebih dahsyat. Tiba tiba terdengar teriakan ‘air naik, air naik datang lagi…’ orang orang bertambah panik, berlarian mencoba mencari perlindungan.
“Beberapa keluarga berhasil masuk mobil dari kota tadi, karena sudah penuh saya tertinggal. Saat itulah kami saling terpisah. Mobil yang membawa keluarga tampak kesulitan melaju,” ujarnya.
Cut Putri harus mencari jakan bertahan bersama ratusan korban lainnya yang bernasib sama. Berjam jam, tak perduli lapar dan haus yang mendera. Sampai akhirnya bertemu sebuah bus, tak perlu hitungan waktu, lansung diserbu dan penuh. Cut coba mendapat keberuntungan dengan bus itu. Dia melompat ke pintu, tetapi apa daya bus penuh.
“Saya bersyukur masih bisa bergelantungan di depan pintu, sementara ada tiga ibu ibu yang harus saya tutup dengan badan dan tangan agar tidak jatuh. Dalam perjalanan, saya terus mencoba menekan orang orang di muara pintu bus, agar tiga ibu tadi bisa masuk. Alhamdulillah berhasil,” ujarnya.
Bus bergerak, Cut tak tahu menuju mana. Yang penting bisa selamat setelah berjam jam lagi, bus berjalan di kegelapan karena tak ada lagi penerangan. Akhirnya mereka berhenti di sebuah area yang rupanya itu semacam diklat pendidikan milik kepolisian.
“Mereka menyambut kami heran, mereka belum tahu apa yang terjadi di Aceh,” ceritanya.
Disitulah penyelamatan handycam menemukan jalannya. Cut dan pengungsi lainnya masih berjuang selain untuk diri sendiri juga mencari info tentang keluarga yang terpisah. Tak lama setelah itu, rekaman dari handycam Cut tayang di sejumlah stasiun televisi nasional. Dan selanjutnya ke penjuru dunia. Kapolri bahkan mengucapkan terima kasih pada Cut yang telah memberikan informasi secara langsung tentang tsunami Aceh.
Kini, 18 tahun setelah itu. Rumah yang menjadi saksi bisu dahsyat tsunami berdiri lebih cantik. Mamun tidak ada perubahan posisi. Di sekelilingnya tampak rumah rumah megah berdiri. Di lantai 2 rumah sang alm perwira, di satu dinding yang cukup luas dipenuhi dengan tanda tangan, ucapan doa, dukungan dan terima kasih untuk perjuangan Cut Putri membuat dan menyelamatkan handycam nya. Rekaman yang saat on di lokasi sudah dia titipkan kepada Alloh SWT untuk menyelamatkannya. Cut yakin ini takdir Alloh dan hanya Alloh yang dapat menyelamatkannya.
Lalu, satu persatu Cut membacakan pesan dan doa yang ditulis dari para relawan dari berbagai negara dan kota yang membantu penulihan Aceh paskatsunami.(uumsri/foto net)



















