BANJARMASIN, aktualkalsel.com — Wartawan radio dari dulu sampai sekarang sama kedudukannya dengan wartawan cetak, televisi, dan online. Dan karenanya berita yang sudah didapat, terutama serimonial harus segera ditulis jangan ditunda-tunda.
” Jangan menunda nunda berita yang sudah diliput dan didapat, jika berita Anda tidak ingin dianggap basi,” kata Koordinator Bagian Pemberitaan LPP RRI Banjarmasin Nordiana, S.Sos, M.I.Kom dan Koordinator Liputan Pemberitaan Yusnan, Senin ( 6/6/2022 ), di Banjarmasin.
Hal itu ditegaskan Nordiana ketika memberikan wejangan kepada reporter RSB Tanah Bumbu Desy Aulia yang melakukan magang di RRI Banjarmasin.
Desy merupakan reporter RSB pertama yang magang di RRI Banjarmasin.
Kepada Desy Aulia dijelaskan untuk seorang reporter atau juga sering dikenal sebagai wartawan, kecepatan dan ketepatan itu dituntut. Apalagi dengan kemajuan teknologi sekarang semua berlomba untuk menjadi yang tercepat dalam menyajikan berita. Kalau tidak, berita itu akan menjadi basi karena duluan media lain memberitakannya.
” Saya saja waktu masih menjadi reporter, waktu dalam kondisi hamil besar masih turun dan masih mencari berita ke lapangan. Kenapa? Karena saya merasa malu dengan diri sendiri kalau tidak berbuat apa yang menjadi tanggungjawab saya, selagi saya bisa,” ungkapnya.
Tidak jauh dengan Nordiana, redaktur Abdi Persada FM Rini, jadi reporter itu tidak boleh berleha-leha. ” Keakuratan berita, serta kecepatan dalam melunis untuk disajikan kepada khalayak itu wajib,” tegasnya.

Di Abdi Persada, untuk bagian pemberitaan ada deadlinenya, batas waktu berita ditulis. Apabila melanggar batas waktu yang diberikan, maka beritanya sudah tidak layak tayang.
” Dan bila itu tidak terpenuhi jelas mereka tidak mampu menjadi wartawan yang baik,” ungkapnya.
Dan selain itu, apabila tidak penuhi target berita yang ditetapkan, gajinya akan dipotong sesuai ketentuan disepakati . Di Abdi Persada wartawan harus menyetor empat berita perharinya, belum lagi rubrik lainnya seperti web dan video berita.
Sementara itu, Desy Aulia yang mengakui jika sistem kerja di RRI Banjarmasin baik. Setiap pagi rapat agenda setting, dan wartawan dituntut untuk secepatnya menyampaikan apa yang didapat.
” Soal berita tidak boleh ditunda- tunda, dalam menulisnya. Itu saya dapat , saya juga diajarkan soal olah vokal membaca berita, dan lainnya. Ya Alhamdulillah, senang sekali, meski waktu pulang lebih lambat dibanding di tempat saya bekerja,” ungkapnya.
Setelah belajar di RRI Banjarmasin, Desy Aulia membenarkan apa yang sudah diajarkan Direktur-nya jika wartawan itu dalam bekerja tidak mengenal batas waktu, terutama dalam hal mendapatkan berita besar untuk kepentingan masyarakat.
RSB -01/edwan



















