BANJARMASIN aktualkalsel.com—Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang Sabtu 1 Oktober 2022 disebut Direktur Eksekutif Maarif Institute Abd Rohim Ghazali sebagai tragedi kemanusiaan.
Hal itu dikatakan Rohim Ghazali kepada portal berita pwmu.co bahwa tragedi di pertandingan sepakbola itu bukan hanya terburuk dalam sejarah sepakbola Indonesia, bahkan yang terburuk kedua di dunia setelah tragedi Estadio Nacional (National Stadium), di Lima, Peru, 24 Mei 1964 yang menewaskan 328 orang.
“Tragedi Kanjuruhan jauh lebih buruk dari tragedi Hillsborough, Sheffield, Inggris, 15 April 1989 yang menewaskan 96 orang dan disebut-sebut sebagai sejarah terkelam dalam sejarah sepakbola Eropa,” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang dirilis laman tersebut Minggu 2 Oktober 2022.
Menurut CNN indonesia sampai Minggu 2 Oktober 2022 ada 174 penonton yang meninggal dunia akibat tragedi tersebut sementara hampir 180 yang mengalami luka luka dan dirawat di rumah sakit. Jumlah korban jiwa ini naik dari data hari pertama yang menyebut 126 korban jiwa.
Menurut Rohim, tidak ada asap kalau tidak ada api. Terjadinya kerusuhan di lapangan menjadi bukti masih adanya masalah yang serius dalam pesepakbolaan nasional.
“Setelah tragedi Kanjuruhan, persepakbolaan nasional harus introspeksi, tidak saling menyalahkan. Kementerian Pemuda dan Olahraga, PSSI, klub-klub sepakbola, penyelenggara kompetisi, suporter, dan seluruh pemangku kepentingan sepakbola Indonesia harus mengevaluasi diri, termasuk pihak aparat keamanan,” tegasnya.
Dia mengatakan, agar kerusuhan di lapangan sepakbola tidak terjadi lagi, diperlukan langkah-langkah yang tepat, misalnya dengan pemberian sanksi berat terhadap klub, suporter, dan penyelenggara kompetisi yang terlibat dalam kerusuhan.
“Sanksi berat diperlukan untuk membuat efek jera bagi semua pihak yang terlibat, dan bisa menjadi pelajaran penting bagi stakeholder sepakbola yang lain,” ujarnya. (uumsri/foto net)


















