BANJARMASIN aktualkalsel.com–Ini lebih sepuluh tahun lalu. Rombongan jamaah umrah PT Kaltrabu dari Banjarmasi memasuki Kota Madinah dinihari. Mungkin sekira jam 01.00 an. Saya salah satu jamaah di sana. Setelah pengaturan kamar hotel selesai, saya memutuskan untuk langsung ke Masjid Nabawi. Itikaf.
Seperti hal jamaah yang pertama menginjak tanah suci, inginnya bergegas bisa beribadah di masjidnya Rasulullah. Infonya pintu masjid dibuka setelah jam 2 dinihari.
Saya beruntung satu kamar dengan artis sinetron Neno Warisman dan direktur PT Kaltrabu Ibu Mawiyah Zumry Fartiman yang sudah wara wiri Indonesia-Madinah-Mekkah. Dan, dinihari itu, perdana ke Masjid Nabawi saya ditemani Mba Neno. Ada rasa aman tentu saja.
Dari jalan hotel kami menginap, tampak masjid yang cantik dengan halaman sangat luas, tumpahan cahaya lampu bak siang hari, sudah banyak jamaah. Ada crowded khususnya di muara pintu yang akan kami tuju. Ternyata itu antrean masuk, ada sekitar lima askar perempuan bertubuh besar, berjaga setiap pintu. Menggeledah tas jamaah kalau kalau ada yang membawa kamera.
Saya mulai was was, sebab sengaja bawa kamera ukuran standar wartawan masa itu, di tas. Sebagai seorang jurnalis naluri ingin mengabadikan pengalaman baru, apalagi di masjid yang diidam2kan setiap muslim, tentu tak bisa dikesampingkan. Semakin dekat dengan askar semakin gelisah, bagaimana kalau kamera disita? Bukan hanya katena harganya yang mahal, tetapi saya akan kehilangan banyak momen lain seputar kota suci, untuk diabadikan.
Lalu saya minta pendapat ke Mba Neno. Artis itu menyarankan agar kamera ditaruh di bagian bawah tas, tutup dengan Alquran kecil yang saya bawa. Selesai.
Giliran saya berhadapan dengan askar tadi, seluruh isi tas saya dibongkar, dia tidak percaya hanya dengan Alquran di bagian atas. Dan, saya pun diusir dari muara pintu itu.
“Kamera, kamera .. haram,” ujar si askar.
Tidak ada pilihan, saya keluar dari kemurunan, Mba Neno terlihat sudah ada di bagian dalam pintu masjid tetapi dia masih sempat bicara:
“Titipkan di resepsionis hotel. Saya tunggu kamu di sini,” ujar dia. Rupanya masih menghawatirkan saya yang baru pertama ke kota suci ini.
Saya pun menuju hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh, sebenarnya dari masjid. Ada di baris kedua setelah halaman Masjid Nabawi. Tetapi, lantaran baru pertama, saya tak langsung mendapatkan hotel kami dan diperparah saya lupa mencatat nama hotelnya.
Maka jadilah saya putar putar mengitari bangunan bangunan hotel yang rata rata mirip semua. Sampai jalan yang saya jumpai sepi, rupanya tersesat. Ada rasa takut, saya lalu balik ke arah masjid. Dari situ kemudian menata langkah, megingat ciri hotel kami. Akhirnya ketemu.
Saya titipkan si kamera ke resepsionis. Setelah dicatat nama dan nomor kamar, saya balik ke masjid. Arus jamaah semakin banyak, depan pintu masuk pun bertambah berdesak desakan. Langit Kota Madinah semakin terang. Waktu Sholat Subuh semakin dekat. Rupanya saya tersesat cukup lama. Saya putuskan untuk tidak masuk masjid, tentang Mba Neno yang katanya menunggu di dalam, saya abaikan. Sebab dengan jamaah yang sedemikian berjubel, rasanya mustahil saya bisa mencari artis sinetron yang baik itu.
Maka, sholat perdana di Masjid nya Nabi Muhammad ini pun, saya di halaman bersama ribuan jamaah lainnya. Saya bersyukur, akhirnya bisa sholat di masjid suci , saksi perjuangan Rasulullah menyampaikan syariat Islam.
Alhamdulillah juga kamera saya tidak sampai disita askar.
Tujuh tahun kemudian, di kesempatan kali kedua berumroh, di pintu yang sama tidak ada razia kamera yang intens. Kadang tas memang diperiksa tetapi sekadarnya saja, handphone tentu saja lolos , padahal bisa untuk memoto juga.
Entahlah, di tahun 2021 dan seterusnya, paskapemerintah Saudi mengeluarkan nota diplomatiknya yang berisi larangan semua jenis kamera ataupun smartphone masuk ke dua masjid suci: Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Apakah akan seketat ketika saya terkena razia kamera lalu diusir itu? Entahlah.(uumsri)




















