BANJARMASIN aktualkalsel.com–Perjalanan politik Prabowo Subianto untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini, sangat penuh perjuangan. Dan, belum pernah ada dilakukan siapa pun. Sebelum akhirnya pada Minggu 20 Oktober 2024 dilantik menjadi presiden ke 8 RI, dia tiga kali mengalami kekalahan di kontestasi ini.
Pertama, pada Pilpres 2009 yang menjadi pilpres pertama dipilih langsung oleh rakyat, Prabowo sebenarnya ingin maju sebagai capres namun dengan berbagai perdebatan politik tingkar elit parpol dia akhirnya mengalah dan bersedia maju sebagai wakil dari Megawati Sukarno Putri. Sayangnya, walaupun posisi Megawati kala itu adalah petahana mereka ternyata kalah dari pasangan capres Susilo Bambang Yudhoyono-Yusuf Kalla.
Lima tahun kemudian, pada Pilpres 2014 Prabowo kembali maju, kali ini sebagai capres menggandeng wakilnya Hatta Rajasa. Di sini pun dia kalah dari pasangan Jokowi-Yusuf Kalla. Bagai tak jera, Prabowo kembali menantang Jokowi sebagai pehana di Pilpres 2019. Pun kembali kalah.
Karena tak kunjung jera dan justru tetap maju, ada yang menjulukinya sebagai politisi yang ambisius, haus kekuasaan. Menanggapi ini Prabowo punya jawaban semangat 45: pejuang tidak mengenal istilah kalah. Dan benar, dia memenangi pilpres di kali keempat, Pilpres 2024
Ada catatan khusus tentang poin tiga kali kalah dan satu kali menang-nya Prabowo di pilpres yaitu semua tanding diikutinya dalam kurun waktu 2009 sampai 2024 atau setara dengan waktu 15 tahun. Itu merupakan tahun tahun setelah Pak Harto meninggal dunia pada 2008 paska lengser dari kepemimpinannya setelah menjadi penguasa era Orde selama 32 tahun.
Pak Harto, tidak sempat menyaksikan mantan menantunya itu bertarung di pilpres. Apakah karena Prabowo tak ingin disangka ‘balas dendam’ dengan unjuk kekuatan di politik? Karena dalam banyak ulasan menyebut, Pak Harto lah yang tegas meminta putrinya Titiek untuk meninggalkan –bahasa untuk bercerai– dari Prabowo pada satu pertemuan keluarga di Cendana pada 20 Mei 2098 atau sehari sebelum era Orba berakhir.
Setelah itu, semua jabatannya di TNI dipreteli bahkan betakhir dengan penecatan oleh Wiranto pada 2019 dengan tuduhan terlibat penculikan sejumlah aktivis, nanun hingga kini dakwaan itu tidak bisa dibuktikan.
Kalau sekarang Prabowo adalah presiden RI itu sudah terputus 15 tahun dari unsur nepotisme power 32 tahun Orde Baru. Berbeda dengan wakilnya yaitu Gibran yang meroket dari walikota Solo melalui jalur mengubah konstitusi oleh sang ayah Presiden Jokowi. ( uumsri/berbagai sumber)




















