BANJARMASIN aktualkalsel.com–Khabar meninggalnya Ustad Yahya Maloni membuat muslimin Tanah Air bukan hanya berduka karena kehilangan ulama yang dikenal tegas dalam menegakkan syariah tetapi juga menimbukan ‘rasa iri’, cemburu.
Iri dengan cara Alloh SWT mewafatkan ulama 55 tahun ini, karena begitu istimewa: ketika menyampaikan khutbah Sholat Jumat di Masjid Darul Fatah Makasar 6 Juni 2025. Hari dimana ratusan juta muslimin Indonesia meneringati lebaran besar Hari Raya Idul Adha.
Detik detik ajal menjemput mantan pendeta ini sangat indah untuk sebuah kematian. Dia baru saja selesai menyampaikan khutbah pertamabya. Turun mimbar lalu duduk seperti halnya tatanan sholat Jumat yang ada dua kali khutbah.
Kemudian berdiri lagi untuk khutbah kedua, hanya hitungan tak sampai satu menit, tampak ulama ini memegang bagian dadanya, mungkin terasa sesak nafas beliau duduk lagi di kursi samping mimbar, saat itu masih bisa melanjutkan seruan tauhid Islam namun belum sempat menutup khutbahnya dengan dia. Tubuh pria tersebut lunglai.
“Mata beliau masih terbuka dan ada nafas,” ujar satu jamaah yang ikut membantu mengangkat badan sang ustad.
“Tapi nampaknya beliau saat itu sudah berpulang,” tuturnya.
Namun, untuk memastikan, ulana tersebut dibawa ke rumah sakit dan benar dinyatakan sudah meninggal dunia: innalillahi waainnalillahi rojiun.
Dalam hitungan menit kepergian Ustad Yahya Maloni cepat menyebar ke penjuru Tanah Air, menjadi berita duka untuk puluhan juta muslimin yang baru saja meninggalkan pintu pintu masjid Sholat Jumat. Dan, bagai berita itu bagai melesat muncul di akun akun media sosial.
Ucapan belasungkawa dan doa terbaik untuk almarhum menbanjiri kolom komentar, banyak pula yang merasa ‘iri’ dengan cara berpulangnya ulama yang 19 tahun laku adalah seorang direktur sebuah Ilmu Teologi di Maluku Utara. Kawasan yang disebutnya mayoritasnya adalah non muslim.
Bagaimana tak merasa iri. Wafatnya Ustad Yahya Maloni di tempat, waktu dan momentum teramat istimewa. Hari Raya Besar Idul Adha yang bertepatan padar Jumat merupakan penghulu hari baik, menyampaikan khutbah kedua di mimbar masjid dengan jamaah yang melimpah.
Di hari ajalnya tiba, Ustad Yahya menjalankan siar Islam dengan maksimal. Pagi hari dia menyampaikan khutbah Sholat Idul Adha di tempat berbeda di Makasar. Sebagai rangkaian dari safari dakwahnya selama sepekan.
Proses khifayahnya menjadi ‘rebutan’ antara dilaksanakan di Makasar atau di Jakarta, domisili almarhum. Bukankah senua itu isyarat Alloh SWT untuk hamba hamba pilihan NYA.(uumsri/foto net)



















