BANJARMASIN aktualkalsel.com–Kuliner khas Kalimantan Selatan ‘nasi kuning’ yang ditawarkan pedagang di kawasan Kota Banjarmasin kini cenderung mengalami degradasi kualitas terutama rasanya.
Menu yang sangat akrab sebagai jajanan sarapan pagi itu mulai kehilangan cita rasanya orisinilnya yang gurih menjadi menuju rasa yang plain atau polos.
“Sekarang sulit kulineran masi kuning dengan rasa gurihnya, cenderung polos gitu rasanya, entahlah kalau di kelas resto,” ujar Yuli, warga Banjarmasin yang mengaku penggemar berat kuliner yang khas dengan warna ‘yellow’ nya ini kepada aktualkalsel.com.
Menurutnya, dari sejumlah pedagang nasi kuning di pubggir jalan yang pernah dikunjunginya, cenderung mengalami penurunan rasa gurihnya, bahkan ada yang tidak beda rasa dengan nasi putih biasa kecuali warnanya.
Aktualkalsel.com yang mencoba crosceck dengan beberapa pedagang nasi kuning di Banjarmasin ada yang enggan mengakui adanya kecenderungan degradasi rasa tersebut. Namun ada pula yang membebarkannya.
“Harga santan kelapa di pasaran melonjak, demikian pula beras dan akhir akhir ini diperparah dengan harga bawang yang bertahan di harga Rp40 ribu perkilonya. Semua itu merupakan komponen utama masi kuning. Ini memaksa kualitas produksi diturunkan,” ujar satu pedagang di Banjarmasin Tengah.
Belum lagi harga lombok kering yang mencapai rp200 ribu perkilonya, diisebutnya sebagai beban produksi.
“Komponen utana nasi kuning di Banjarmasin itu kan beras kualitas baik, santan, bawang dan lombok kering itu,” tuturnya pekan pertama Januari 2025.
Sekarang, menurutnya, harga kelapa parut di pasaran mencapai Rp28 ribu perkilonya.
“Sepertinya ini tidak akan turun lagi,” ujar pedagang nasi kuning yang satu ini.(uumsri/foto net)



















