BANJARMASIN aktualkalsel.com—Apakah Alloh ridho terhadap
muslimin yang orientasi hidupnya untuk mengejar dan mengumpulkan kekayaan berlimpah dalam kehidupannya? Untuk menjadi seorang taipan atau konglomerat, misalnya?
“Islam mempersilakan umat yang berorientasi hidup demikian tetapi dengan catatan,” ujar Dr H Sukarni , ulama yang juga akademisi di Banjarmasin, Selasa 7 September 2021.
Ketika memberikan tausiah majelis di hadapan jamaah Sholat Magrib Masjid Al Jihad Banjarmasin, ulama ini menguraikan tentang hakikat kekayaan yang berlimpah di mata Alloh SWT.
“Adalah kekayaan itu harus jadi wasilah atau media bagi pemiliknya untuk membuka seluas luasnya lima pintu yang mengantarkan kekayaan tadi sebagai ibadah kepada Alloh, bukan justru membawa kemudhoratan.
“Lima pintu itu adalah sedekah, zakat, infaq, hibah dan wakaf yang bisa diambil untuk bisa mengabdi kepada Alloh melalui kekayaannya,” ujar dosen IAIN Antasari Banjarmasin ini.
Sebaliknya, menurut dia, kekayaan dan aset yang dicari ini hanya untuk memuaskan jasmani, maka bisa membawa kesesatan.
“Padahal memuaskan kebutuhan jasmani itu bila dituruti akan membawa pada titik jenuh. Bosan,” jelasnya lagi.
Dia mencontohkan salah satu kebutuhan jasmani yang sangat umum adalah makan. Bila dituruti nafsu makan ini, maka akan menggiring prilaku manusia yang tidak baik bagi kesehatan. Perut akan menjadi pabrik mencerna makanan, hingga ujungnya rusak.
“Dalam soal nafsu makanan ini Islam menetralkannya dengan puasa. Mengistirahatkan dan menyehatkan dengan ibadah,” jelasnya lagi. (uumsri)



















