Oleh: Noorhalis Majid
UMKM yang Memilih Menyerah di Hari Buruh
Tanpa gembar-gembor, UMKM lokal “Mama Khas Banjar” mengumumkan penutupan usahanya tepat 1 Mei 2025. Pengumuman itu datang bersamaan dengan peringatan Hari Buruh, sebuah ironi yang menyayat hati. UMKM yang dirintis dari nol ini akhirnya menyerah, karena tidak tahan dengan tekanan yang datang terus-menerus.
Tekanan Berlapis, Kepuasan Siapa?
Berbagai tekanan—baik dari regulasi, aturan perizinan, hingga sistem perpajakan—terus membelit. Akibatnya, pelaku usaha merasa terkepung. Pihak-pihak yang menekan mungkin merasa puas karena berhasil menegakkan aturan. Namun, kepuasan ini tidak memberi manfaat apa pun bagi masyarakat.
Sebaliknya, penutupan satu UMKM justru menciptakan kerugian besar. Lapangan kerja hilang. Pendapatan masyarakat berkurang. Dan kepercayaan publik terhadap dukungan pemerintah pada UMKM pun menurun drastis.
UMKM Pahlawan Ekonomi yang Terabaikan
Fakta menunjukkan bahwa UMKM menyerap tenaga kerja jauh lebih banyak dibandingkan perusahaan besar. Bahkan saat krisis atau pandemi, UMKM tetap memutar roda ekonomi di tingkat bawah. Penelitian juga membuktikan bahwa sektor ini menjadi benteng pertahanan ekonomi rakyat.
Namun, kenyataannya, banyak UMKM harus berhadapan dengan sistem yang tidak bersahabat. Bukannya mendapat dukungan untuk berkembang, mereka justru terhambat dengan birokrasi yang berbelit dan aturan yang tumpang tindih.

Ketakutan Baru Bagi Pelaku Usaha
Tutupnya Mama Khas Banjar menyisakan pesan kuat. Pelaku UMKM menjadi takut memulai atau mengembangkan usaha. Mereka khawatir diperlakukan sama—dibina saat kecil, namun dibinasakan ketika tumbuh.
Berbagai ketentuan yang tidak ramah, pajak yang menumpuk, serta sistem hukum yang kaku membuat UMKM sulit bernapas. Padahal, sektor ini sangat vital bagi kestabilan ekonomi nasional.
Saatnya Pemerintah Bertindak
Pemerintah harus membuka mata. Perlindungan nyata terhadap UMKM tidak cukup hanya dengan retorika. Perlu reformasi kebijakan agar UMKM bisa berkembang, bukan terpaksa menutup usaha.
Mama Khas Banjar telah berbicara. Ia tidak menyerah karena tak mampu, tapi karena terlalu banyak dibebani. Jika satu UMKM mati, maka satu roda ekonomi berhenti berputar. NM


















