BANJARMASIN aktualkalsel.com—Ipeh, cewek yang baru menginjak remaja itu, jadi sorotan di media sosial. Sejak memilki ibu sambung seorang artis terkenal, boleh dibilang dia —mau gak mau— terseret pansos alias ikut terkenal.
Tak heran ketika gadis dengan nama Syarifah Syahra ini harus meninggalkan tanah air menuju Yaman, tepatnya Kota Tarim wilayah Hadramaut, banyak fan menangisinya.
Di youtube milik ibu sambungnya Kartika Putri, perjalanan Jakarta-Tarim selama 20 jam penerbangan menjadi tayangan mengandung bawang, menguras air mata.

“Memang sangat jauh Ipeh berpisahnya sama abi, bunda, mami dan ayah, dan adik adik,tetapi ini untuk kebaikan Ipeh. Menimba ilmu agama terbaik agar menjadi hamba Alloh yang seperti diajarkan Rasulullah,” ujar artis yang dikenal dengan nama populer Karput ini, saat berada di sebuah kamar penginapan di Tarim.
Tubuh Karput terlihat tergoncang, kakinya gemetar akibat kesedihan luar biasa. Sebentar lagi dia dan suaminya Ustad Habib Usman Yahya —ayah Ipeh— akan melepas putri kecil mereka, masuk asrama di sebuah pesantren kota berjuluk ‘kota para wali Alloh’ ini.
“Pasti ada maksud orangtua. Doakan Ipeh betah,” ujarnya. Lalu mereka berpelukan, berderai air mata, dalam kesedihan. Karput mengantar Ipeh sampai depan pintu asrama, batas akhir mereka boleh bersama.
Suasana dinihari Kota Tarim menjadi saksi tumpahnya airmata Karput dan suami. Setelah itu, mereka harus kembali ke Jakarta meninggalkan Ipeh menuntut ilmu agama di negeri yang tengah terbakar perang saudara. Antara Tarim dan Aden , wilayah paling berkonflik, memang berjarak lebih 400 kilometer tetapi orangtua mana yang tidak cemas dengan anaknya yang belajar disana? Seorang remaja putri baru seusia pelajar SMP.
Itulah yang berkecamuk dalam rasa Karput dan suami, juga keluarga besar mereka. Tetapi, sebagai anak habib, guru, ulama sekaligus pimpinan sebuah majelis besar, Habib Usman sudah menetapkan Tarim sebagai tempat semua anak anaknya kelak menimba ilmu agama.
Tarim, kota dimana disebut sebut sejak dulu hingga sekarang banyak bermukim keturunan Rasululah. Kota penting umat Islam setelah Mekkah dan Madinah. Kota dimana perempuan sangat terjaga hingga tidak terlihat berkeliaran di luar rumah terkecuali bersama mahramnya dan mengenakan pakaian tertutup hanya menyisakan bagian mata yag terlihat. Kota sangat, sangat kental suasana relegiusnya. Dan itu, ujar Karput mereka rasakan selama beberapa hari saja di sana.
Mengingat jauhnya Tarim dan ancaman konflik yang mengintai, Karput mengaku tak bisa menghentikan airmatanya hampir selama penerbangan pulang 20 jam. Dan itu berlanjut hingga hari hari dan pekan pekan awal, setelahnya. Tradisi pesantren yang sangat sangat membatasi dunia iphone membuat mereka tidak leluasa untuk berkomunikasi. Harus nunggu waktu yang tidak menentu, dan harus pula mencari ustadzah atau seniornya untuk meminjamkan hp. Bila toh komunikasi tersambung, itupun harus tersendat sendat. Selain karena sinyal terbatas, lebih dari itu karena Karput terus sesegukan setiap mengucap kata kangen atau pesan hati-hati untuk putrinya.
Kini Ipeh masih berjuang menggali ilmu agama, ilmu yang mutlak wajib dituntut setiap hamba Alloh.
“Untuk bekal Ipeh menapaki kehidupan, yaa sebagai perempuan sebagai istri dan sebagai ibu bagi anak anaknya kelak. Ilmu yang dibawa hingga akhirat,” ujar Karput.
Dan, kesedihan seperti ini, bakal berulang lagi bagi, karena masih ada dua anak sambungnya yang laki laki, dan satu putri kandung Kartika Putri yang bakal mengikuti perjalanan Ipeh yang benar benar mengandung bawang ini.
Itu rencana panjang Karput.
“Insha Alloh, juga putri kandung saya,” ujarnya. Istimewanya anak anak pesantren ini. (uumsri)




















