BANJARMASIN aktualkalsel.com—Kunjungan orangtua ke santri itu ibarat gula!
Adalah Sholeh yang mengaku merasa pilu setiap membaca kalimat yang ditempel di beberapa titik pondok pesantren tempat anaknya nyantri. Itu setelah dia mendapat penjelasan dari ustad di sana, makna ‘gula’ yang sesungguhnya.
“Mulanya saya gak ngeh dengan kalimat yang terasa agak tidak umum ini,” ujarnya membuka cerita pengalamannya ketika mengunjungi anaknya yang nyantri di sebuah pondok pesantren kawasan Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini.
Beberapa kali kunjungan di tahun awal anaknya nyantri disana, Sholeh merasa biasa saja setiap membaca kalimat itu. Sampai akhirnya ketika harus menyelesaikan administrasi di kantor ustad, dia mendapat penjelasan tentang makna kalimat tadi.
“Kalimat itu ditulis di kertas folio lalu ditempel di beberapa titik dinding aula dimana biasanya kita orangtua menemui anak yang nyantri di sana,” jelas Sholeh lagi.
Kalau sebelum tahu maknanya dia merasa biasa saja, ternyata tidak setelah sang ustadz menjelaskan: gula itu memang manis, tetapi bisa jadi penyakit yang tidak menyehatkan bila kebanyakan!
“Artinya tidak baik bila kunjungan sering dilakukan. Anak susah beradaptasi dengan lingkungan pondok, tidak mandiri dikhawatirkan tujuan nyantri anak tidak tercapai,” ujar Sholeh lagi.
Sejak tahu dan sadar makna kata ‘gula’, Sholeh mengaku ada rasa pilu menyelinap setiap dia memandang tulisan tadi.
“Ternyata kunjungan kita orangtua ke santri di pondok tidak baik bagi metode pendidikan disana bila dilakukan keseringan. Itu yang membuat saya merasa pilu,” ujarnya perlahan.
Tapi, demi tujuan anak belajar di pondok pesantren tercapai, dia harus melawan pilu itu, dengan membatasi frekwensi kunjungannya ke sana.
“Mulanya hampir setiap pekan, tetapi kini bisa dua atau tiga pekan sekali kunjungan,” ujarnya.
Walau demikian Sholeh mengaku lebih beruntung karena kunjungan rutin itu bisa dilakukan dengan naik sepeda motor karena jarak tempuh Banjarmasin-Banjarbaru kisaran 30 kilometer sementara banyak santri lainnya yang orangtua mereka tinggal ratusan kilometer jaraknya.
“Belum lagi yang nyantri di ponpes Pulau Jawa sana, setahun sekali sudah paling sering berjumpa,” dia berdalih.
Sholeh menyebutkan dua anak lelakinya merupakan santri di pondok tersebut, namun sang kakak sudah selesai dan diteruskan adiknya yang menjadi santri di tahun kedua setelah lulus SD.(uumsri)




















