BANJARMASIN aktualkalsel.com–Muslimin dunia tak akan lupa tragedi penembakan dua masjid di Kota Cristchurch, Selandia Baru yang membuat lebih 50 jamaah syahid diberondong peluru Maret 2019.
Duka mendalam itu sekaligus memunculkan sosok perempuan paling berpengaruh di sana yaitu PM Selandia Baru yang bernama Jacinda Ardern. Beberapa pekan di bulan itu sosoknya menjadi perhatian dunia. Tragedi berdarah di dua masjid itu yang membuat sosoknya terekspos kencang termasuk karirnya sebagai perempuan termuda pemimpin negara. Terpilih saat berusia 37 tahun.
Februari 2023 ini seharusnya dia akan megakhiri masa jabatannya dan bukan mustahil bisa kembali terpilih andai Ardern mencalonkan diri lagi. Tetapi tampaknya tidak, sebab sebulan menjelang akhir tugasnya dia justru mundur.
Mengutip VoA berbahasa Indonesia, Ardern memimpin Selandia Baru melewati pandemi COVID-19, dan sejumlah peristiwa besar seperti serangan teror ke dua masjid di Christchurch serta erupsi vulkanik di White Island.
Mengenai faktor mengapa dia mundur di penghujung masa akhir jabatannya, Ardern mengatakan bahwa ia sudah berjanji untuk mendampingi putrinya, Neve, saat masuk sekolah tahun ini.
Ia juga berjanji kepada partner hidupnya, Clarke Gayford, bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menikah.
Ardern juga yakin bahwa partainya, Partai Buruh akan kembali menang dalam pemilu pada bulan Oktober mendatang.
Kembali tentang tragedi berdarah di masa kepemimpinannya, Ardern mengeluarkan statemen yang cukup tegas:
“Apa yang terjadi di Selandia Baru adalah kekerasan yang dibawa oleh seseorang yang tumbuh dan belajar ideologinya di tempat lain.
Jika kita ingin memastikan secara global bahwa kita adalah dunia yang aman dan toleran serta inklusif kita tidak dapat memikirkan hal ini dalam konteks perbatasan.”
Dia membela kebijakan negaranya yang menerima pengungsi, dengan mengatakan: “Kami adalah negara yang ramah.” (uumsri/foto net)




















