BANJARMASIN, aktualkalsel.com —
Paslon Pilkada kabupaten Tanah Bumbu nomor urut 2, Mila Karmila yang berpasangan dengan Zainal Arifin menegaskan, kerusakan kawasan konservasi terumbu karang Bunati, Kecamatan Angsana disebabkan aktifitas tambang batu bara.
Hal tersebut diungkapkan Mila Karmila pada debat publik paslon bupati dan wakil Tanah Bumbu di TVRI Kalimantan Selatan, Sabtu ( 14/11/2020 ) malam,yang dipandu DRM Tenri Andi Sompa
Masalah kerusakan terumbu karang di Bunati menjadi salah satu tema debat cukup hangat dari sejumlah tema perdebatan ketika paslon. Pasalnya kondisi terumbu karang di Bunati sejak lama menjadi perhatian nasional tapi dunia karena kondisinya saat ini rusak parah.
Saat ini keindahan bawah laut kawasan konservasi terumbu karang Bunati, tidak kalah dengan taman laut Bunaken Sulawesi Utara (Sulut).

DICEGAT WARTAWAN
Zairullah yang dicegat wartawan usai debat menegaskan, masalah potensi kemaritiman di Tanah Bumbu menjadi perhatian serius bagi dirinya.
” Soal kerusakan terumbu karang di Bunati harus menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu mendatang,” tegas bupati pertama Kabupaten Tanah Bumbu itu kepada wartawan.
Persoalan terumbu karang merupakan permasalahan yang mendesak yang harus sesegeranya diselesaikan.
Zairullah mengatakan, terumbu karang memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan habitat laut di Kabupaten Tanah Bumbu.
” Soal kerusakan terumbu karang akan menjadi prioritas yang harus diselesaikan ketika saya terpilih menjadi bupati,” tegas Zairullah.
Rakhmat Nopliardy, mantan anggota Komisi III bidang pembangunan dan infrastruktur DPRD Kalimantan Selatan yang membidangi pertambangan dan energi, serta perhubungan dan lingkungan hidup tersebut menyayangkan atas kerusakan kawasan konservasi terumbu karang Bunati.
“Bahkan kawasan konservasi terumbu karang Bunati termasuk three enggle (segi tiga) terumbu karang dunia,” katanya seperti yang ditulis kantor berita Antara, 12 Juni 2012 lalu.
Anggota DPRD Kalsel pengganti antar waktu dari PAN asal daerah pemilihan Kota Banjarmasin, kala itu menyebut memperkirakan kerusakan kawasan konservasi terumbu karang Bunati tersebut, seiring dengan keberadaan pelabuhan khusus (Pelsus) batu-bara di tempat itu.
Dimana Pelsus tersebut ramai pengapalan hasil tambang batu bara, untuk dikirim keluar daerah Kalsel atau “Bumi Bersujud” Tanbu, sebuah kabupaten yang berdiri sendiri sejak April 2003.
Selain itu, menurut Rakhmat Nopliardy, pemerintah pusat dalam hal ini Departemen Pertambangan dan Energi (kini Kementerian Energi Sumber Daya Mineral/ESDM), juga punya andil atas kerusakan kawasan konservasi terumbu karang Bunati.
Begitu pula Departemen Perhubungan atau Kementerian Perhubungan tidak bisa lepas tanggung jawab atas kerusakan kawasan konservasi terumbu karang Bunati, yang bukan saja merupakan aset daerah, tapi juga nasional.
“Karena kerusakan terumbu karang yang merupakan tempat kehidupan biota laut itu, konon tak bisa diperbaiki lagi.
Sebab terumbu karang-terumbu karang di kawasan itu banyak yang sudah menghitam, diduga karena pencemaran olah batu bara,” demikian Rakhmat Nopliardy.
Sementara itu, pengamat terumbu karang Anwar Ali Wahab mengingatkan, kepada paslon peserta harus memperhatikan soal kerusakan terumbu karang jika terpilih menjadi bupati.
Karena masalah kerusakan terumbu karang sudah menjadi tema debat ketiga Paslon Bupati.
Saat ini, kerusakan terumbu karang seolah antara ada dan tidak ada.Untuk membuktikanya harus ada investigasi dari pemerintah
provinsi, pemerintah pusat dan LSM pencinta lingkungan, khusus terumbu karang.
” LSM pencinta lingkungan dan tokoh-tokoh masyarakat pencinta terumbu karang harus dilibatkan” kata mantan anggota Mapala Universitas Lambung Mangkurat ( ULM ) itu.
Anwar menegaskan, jika aktifitas batu bara penyebab kerusakan terumbu karang ,maka dia mengharapan ketiga Paslon harus mengehentikan aktifitas pelabuhan batu bara di daerah itu.
” Itukan, dikawasan konservatif ada pelabuhan khusus batu bara. Jika terbukti merusak terumbu karang harus dihentikan,” kata Anwar.
Kerusakan terumbu karang di Bunati, menurut Anwar, tidak hanya menjadi sorotan nasional dan internasional.
Masalahnya kerusakan terumbu karang berbeda dengan kerusakan hutan yang bisa dilakukan penghijauan kembali.
Kalau terumbu karang rusak, tidak bisa lagi dikembalikan. ” Kalau terumbu karang rusak, ya rusaklah,” ungkap Anwar.
Anwar yang pernah melihat peta terumbu karang di Bunati, merasa heran karena pelabuhan batu bara itu posisinya diapit terumbu karang yang masih tersisa.
” Kiri kanan dan kirinya masih ada terumbu karang. Tapi tengahnya jadi pelsus yang luasnya sekitar 7 hektar, ” demikian Anwar. SKR/Edwan




















