BANJARMASIN aktualkalsel.com–Pelajar Indonesia di Kota Maebashi, Jepang mengukir ‘sejarah kebangsaan’ dalam senyap. Di balik terungkapnya kasus kematian –diduga pembunuhan– Joshi Putri Cahyani, gadis asal Minang yang studi di sana, mereka paling berempati.
Paska ditemukannya jasad Joshi dalam kondisi sudah memburuk di sebuah apartemen di Maebashi, media media media dunia sangat inten memberitakan peristiwa yang menyayat hati keluarga di Sumatera Barat sana. Nyaris tak tersebut bahwa ada investigasi penting ala pelajar Indonesia yang bekerja tanpa diminta.
Mencerahkan, analisa di podcast telling story nessie jadge, bahwa seandainya polisi Maebashi tidak ‘secuek’ sejak awal, kemungkinan besar kematian pelajar kualitas unggul penerima beasiswa itu segera terungkap pada kesempatan pertama. Tetapi, kenyataan seperti disiarkan kantor kantor berita dunia dalam sepekan ini.
“Faktanya, Joshi meninggalkan asramanya pada 7 Agustus 2023 dan tak pernah kembali, sampai dua pekan kemudian ditemukan membusuk di apartemen yang disewa teman pria nya bernama Keichiiro Kajimura,” ujar tayangan nessie jadge tadi.
Investigasi ala pelajar WNI dimulai di sini: pada 7 Agustus 2023 Joshie pamitan ke teman temannya di asrama untuk jalan jalan menonton satu festival Nanabee. Seorang temannya pria Jepang menjemput. Tidak ada yang aneh bukan ketika ada remaja yang menonton pesta kembang api.
Tetapi, menjadi kekhawatiran teman temannya ketika hingga SEPULUH hari Joshie tak kunjung balik ke asrama. Satu temannya berinisiatip menelepon, suara di seberang ada sahutan Joshi kalau dia sedang liburan bersama sang pacar, tersebutlah nama Kajimura. Walau tak satu pun teman asrama Joshi mengenal sosok itu, tetapi jawaban tadi membuat mereka lega: Joshi baik baik saja.
Ternyata itu kontak terakhir mereka.
Tak kunjung balik, mereka kembali menghubungi Joshi. Itu 22 Agustus 2023, kali ini tidak ada jawaban. Berkali kali diulangi, tetap tidak ada kontak. Para pelajar WNI penerima beasiswa itu memutuskan membuat laporan Joshi hilang. Hanya saja, reaksi polisi di Maebashi tidak seperti yang diharapkan. Alasannya, Tidak ada bukti Joshi diculik, disiksa apalagi dibunuh.
Pasrah!
Berada di sistem hukum negeri orang. Sampai berapa lama menunggu polisi Jepang bergerak? Tak ada yang bisa menebak. Tetapi, dari kondisi inilah para bibit unggul penerima beasiswa itu mendapat kekuatan lain. Satu dari mereka ingat nama pria yang sempat disebut Joshi sebagai teman itu. Mereka pun bantu membantu, berselancar di dunia maya melacak siapa dan dimana keberadaannya. Sampai pada satu akun medsos dimana nama itu muncul, daannn ada lebih 20 postingan foto Joshi dan pria itu disana. Termasuk di festival kembang api itu.
Investigasi berlanjut.
Sasarannya mencari dimana alamat pria itu. Daaann.. lagi lagi, sebuah apartemen yang diduga kuat tempat Kajimura tinggal, terlacak. Sempat ada kontak pesan yang direspons Kajimura. Tapi tak berlanjut. Penyidikan mendalam dilakukan, hasilnya mereka terbelalak, di rekam jejak digital itu terpampang bahwa kekasih Joshi punya catatan kriminal yang mengerikan. Dia pernah terlibat kasus pembunuhan.
Berbekal data yang masih harus diverifikasi inilah kemudian mereka kembali mendatangi kantor polisi. Karena hanya petugas yang bisa membuktikan benar tidaknya hasil lacak by internet tersebut. Tak lupa mereka menghubungi KBRI di sana menyerahkan semua hasil lacak digital tersebut.
Pasa 22 Agustus 2023 sore, para pelajar Indonesia itu berhasil membawa petugas kepolisian ke apartemen dimaksud. Disana mereka ‘disambut’ sesosok jasad yang sudah tidak bernyawa dan –maaf– membusuk. Kenjiro tidak ada di tempat, namun beberapa jam kemudian dia disergap di satu rute kereta api bawah tanah. Mungiin hendak melarikan diri.
Telling Story nassie jadge ini pun memunculkan banyak nasihat dari para WNI yang berjuang di negeri orang. Entah untuk bekerja atau studi, agar fokus dengan tujuan. Hati hati dengan orang asing disana.
“Satu generasi unggul kita korbannya,” begiti narasi di sana.(uumsri/ilustrasi net)
















