BANJARMASIN aktualkalsel.com–Hari sepuluh terakhir Ramadhan menjadi momentum muslimin berburu kemuliaan Laitul Qadar. Salah satunya dengan beritikaf di masjid.
Ulama di Banjarmasin Rahmat Fauzan Asyari MA mengingatkan muslimin dalam beritikaf agar tidak kehilangan makna utamanya yaitu vokus beribadah kepada Alloh SWT.
“Itikaf itu kan makanya menyendiri agar vocus beribadah kepada Alloh,” ujarnya di hadapan jamaah Sholat Subuh Masjid Al Jihad Banjarmasin, Senin 25 April 2022.
Menurutnya banyak faktor yang bisa mempengaruhi atau biasnya tujuan itikaf seperti menjadikan pertemuan sesama jamaah ikitkaf untuk berbincang atau makan makan.
Bahkan, menurutnya, ada perbuatan yang tampaknya sepele namun justru mampu mempertaruhkan kekhusyukan dari itikaf yang dilakukan sepanjang malam malam terakhir Ramadhan itu.
Contohnya, ujar ulama ini, Ketika kita itikaf lalu memoto satu sudut karpet masjid kemudian meng-up load-nya di media sosial dengan keterangan waktu dinihari itu, ini bisa menjadi perbuatan yang menggugurkan tujuan utama itikaf.
“Satu sudut karpet masjid plus keterangan waktu pengambilan foto itu sudah bisa bermakna kita ingin mengumumkan ke khalayak medsos bahwa kita sedang itikaf di masjid. Ini sudah melenceng. Kenapa pake diumumkan segala,” ujar Ustad Fauzan.
Itu, menurutnya hanya salah satu contoh hal yang bisa mempertaruhkan tujuan itikaf karena satu foto di medsos.
Apalagi, menurut dia, ketika kita melakukan proses upload foto, terlihat beberapa tayangan yang mengandung gambar gambar tidak terpuji, maka itikaf kita semakin kehilangan makna.
“Pun ketika kita upload foto kawan itikaf yang tertidur, itu juga bisa mengandung makna ingin menunjukan ke khalayak bahwa ‘ini saya lagi itikaf’. Jadi hindari kegiatan yang bisa menghilanfkan makna utama itikaf itu sendiri,” jelas ulama ini.
Demikian pula dengan status status seperti: ‘syahdu nya dinihari di masjid’ atau ‘Alhamdulillah busa merasakan kekhusyukan tengah malam di masjid’ semua ini berpotensi menpertaruhkan keutamaan itikaf.
“Jadi usahakan itikaf kita seperti itikafnya Rasulullah, yaitu memperbanyak ibadah dalam kesendirian hingga vocus hanya kepada Alloh SWT,” ujarnya.
Kalaupun memang berada di masjid dengan banyak jamaah maka hindari hal hal yang bisa menggugurkan makna itikaf tadi, tetap vocus pada ibadah kepada Alloh.(uumsri)




















