BANJARMASIN aktualkalsel.com—Menyebut nama mendiang walikota Banjarmasin periode 2005-2010 Yudhi Wahyuni, ingatan kuat terarah pada dua kawasan favoritnya warga Banjarmasin: Jl Lambung Mangkurat dan Jl Hasanudin HM. Dua lintasan lalu lintas yang masih satu muara.
Dua jalan raya utama di ibukota Kalimantan Selatan ini merupakan ‘paru paru’ bagi pengendara atau siapa saja yang melintasinya. Adeem pakai banget untuk ukuran jalan raya di pusat perekonomian, kota perdagangan dan jasa seperti Banjarmasin ini.
Jl Hasanudin, memang tidak terlalu panjang, bahkan tak mencapai satu kilometer, tetapi melintasi di sini, di siang terik sekali pun, nyaris tak terlihat ada sengatan matahari. Kiri kanan ruas jalan ini dikawal ketat oleh barisan pohon jenis akasia yang ujung ujung dahan seberang menyeberang saling bertautan. Rindaang!
Seolah menjadi kanopi alam bagi pertokoan yang ada di sana.
Tak beda dengan Jl Lambung Mangkurat. Kawasan paling elit dan mahal di Banjarmasin ini menjadi pusat perekonomian berkelas. Di jalur ini ada sejumlah bank baik bumn maupun swasta bahkan induk perbankan negeri ini Bank Indonesia, beralamat di jalan ini. Sejumlah hotel berbintang, gerai waralaba kelas dunia sampai gedung DPRD Kalsel juga hadir di sini, masing masing dengan bangunan menjulang.
Kalau sekarang kawasan pusat kota ini hadir sebagai ‘primadonanya’ landscap Banjarmasin, itu bukan lantaran view gedung gedung penting tadi, tapi karena kehadiran sembulan daun daun hijau ‘hutan’ di jalur jalan raya-nya yang memberikan udara dingin seperti di Jl Hasanudin tadi.
Dua titik terbuka hijau itulah bagian dari program Banjarmasin Hijau yang dicanangkan Walikota Banjarmasin periode 2005-2010 Yudhi Wahyuni pada awal lima tahun pemerintahannya.
Dua jalan utama yang 16 tahun lalu terasa gerah. Jumlah penghijauan yang ada kala itu jauh tak sebanding dengan frekwensi lalu lintas di sana.
Dari dua jalan favorit tadi berlanjut di sejumlah jalan jalan utama Banjarmasin seperti kawasan Veteran, Belitung, Sutoyo , Jafri Zamzam dll. Jala jalan yang sekarang bagai beratap daun hidup. Peninggalan penghijauan yang tak kalah berkesannya adalah kawasan Taman Kamboja.
‘Sayangnya’ waktu itu, kebijakan ingin menghadirkan terbuka hijau oleh walikota yang juga kerap naik mimbar dakwah terasa tidak umum. Bahkan terasa aneh bagi warga kebanyakan: menghijaukan sisi kiri kanan jalan dengan menanam pohon dalam pot pot semen atau drum bekas!
Apa mungkin bisa besar? Di atas sisi jalan aspal atau di atas trotoar?
Tidak sedikit yang bertanya sembari menertawakan nada nyinyir. Termasuk pelaku bisnis yang menyaksikan pekerjaan itu.
Seiring perjalanan tahun, pohon pohon dalam drum bekas itu bertumbuh sempurna, pot penampung mulai retak kemudian pecah bersamaan dengan tumbuhnya akar semakin menguat. Walaupun ada satu dua yang gagal.
Ketika Yudhi Wahyuni mengakhiri masa kepemimpinannya, penghijaua dalam drum drum pinggiran di tepi jalan jalan itu semakin memberikan perannya sebagai ‘paru paru’ jalan raya. Walau sempat dicibir mereka yang tak cukup wawasannya. Lima tahun memimpin kota berjuluk ‘seribu sungai’ ini, banyak kebijakan pro lingkungan kota, hadir. Dua jalan primadona di atas adalah potongan yang bisa dinikmati masyarakat sepeninggalnya. Walikota periode 2005-2010 ini berpulang ke khadirat Alloh pada Jumat 17 November 2021, sebelas tahun setelah dia menanam pohon pohon besar itu yang dimulai dari dalam drum drum bekas.
Jenazahnya disholatkan massa jamaah sholat Jumat di dua masjid yaitu Masjid Al Jihad Banjarmasin Tengah kemudian di Masjid Al Haq Banua Anyar Banjarmasin Timur. Kampung halaman almarhum. Kemudian dimakamkan di alkah keluarga yang tak jauh dari masjid kedua itu.
“Almarhum orang baik, saya jumatan di Masjid Al Haq ini sebenarnya kebetulan. Sedangkan almarhum setahu saya disholatkan di Al Jihad. Ternyata dibawa ke masjid ini juga. Takdir baik saya, bisa menyolatkan dan mengantarkan ke kuburnya,” ujar Sholeh, satu jamaah Jumatan di Masjid Al Haq, merasa bersyukur.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. (uumsri)




















