BANJARMASIN aktualkalsel.com–Gubernur Aceh Muzakir Manaf menjadi sosok yang paling berduka di tengah bencana banjir ekstrem dahsyat yang menimpa warganya akhir November 2025.
Lebih sepekan dia berkeliling ke titik titik lokasi bencana yang hingga kini masih belum bisa ditanggulangi dampaknya.
“Empat desa kami hilang entah kemana dalam semalam,” ujar gubernur yang lebih akrab disapa Mualem ini dengan air mata mengambang di kedua matanya.
Sejak bencana banjir bandang berlumpur pada Rabu 26 November 2025 itu, Mualem tidak bisa tersenyum, justru kesedihan mendalam terpancar di matanya yang kerab basah.
Dalam wawancara dengan Najwa Shihab, Mualem menceritakan dia dan segenap warganya menghadapi kesulitan serius dalam upaya menguburkam mayat mayat korban bercana dahsyat tersebut. Saking pedihnya, dia terdiam sambil mengambil tissue di samping untuk mengusap matanya.
“Mayat mayat yang ditemukan terpaksa diikat dulu di batang batang pohon atau tiang tiang yang tersisa,” tuturnya.
Mereka, ujarnya, tidak bisa langsung menguburkan jasad tersebut karena tak menemukan lahan yang busa dijadikan kuburan, semuanya tertutup air dan lumpur setinggi lutut orang dewasa. Air yang disebutnya aneh karena berwarna hitam, bau menyengat dan terasa perih di kulit.
“Sampai dua hari, kami mencari lahan ke bukit bukit untuk memakamkannya,” jelas dia.
Saking beratnya dampak banjir bandang ini, gubernur Aceh tersebut menyebut bencana kali ini lebih berat dibanding tsunami Desember 2004 lalu.
“Waktu tsunami proses bencananya berlangsung puluhan menit, kalau sekarang berhari hari bencana yang dialami warga kami,” tuturnya.
Banjir bandang ini juga, disebutnya ada keanehan, karena tidak hanya manusia yang menjadi korban tetapi juga aneka binatang yang habitatnya di air dan berlumpur seperti buaya, ular besar dan ikan ikan. (uumsri/foto net)




















