BANJARMASIN aktualkalsel.com—Dia seorang dokter medis yang kini bergelar DR (doktor). Suaminya politisi sejati sekarang menjadi orang nomor satu di Kota Banjarmasin. Dua latar pendidikan sain yang mumpuni itu justru tidak membuat Hj Siti Wasilah, —istri Walikota Banjarmasin dua periode Ibnu Sina MSi— untuk menggiring keempat putranya menggeluti dunia ilmu yang sama: kedokteran atau politisi. Dua karir bergengsi.
Bahkan, secara empiris banyak orangtua dokter cenderung menata putra putrinya di profesi sama dengan pertimbangan zona aman rezeki. Tetapi tidak dengan DR dr hj Siti Wasilah MSc.Med. Justru keempat putranya mengenyam pendidikan berbasis pesantren bidang tahfidz atau hafal Alquran.
“Awalnya saya sempat memaksakan ke mereka harus ini harus begini,” ujarnya ketika menjadi tamu di podcast UMKM Ngobras yang dipandu Sukrowadi, politisi di DPRD Banjarmasin.
Tetapi menurutnya, sistem ‘semi intimidasi’ itu tidak direspon baik anak anak. Ada nuansa perdebatan yang dirasakannya bakal tidak smooth ke depannya. Sinyal itu rupanya juga ditangkap p sang suami sehingga suatu saat mengemukakan sepotong kalimat simpel yang membuat dirinya sebagai seorang istri dan ibu tersadar.
“Pak Ibnu cuma bilang begini: anak anak itu bukan kamu tidak seperti kamu! Beliau cuma bilang seperti itu,” ceritanya lagi.
Sejak itu sikap dominasinya terhadap pendidikan keempat putranya berubah haluan. Mereka diperkenankan memilih bidang pendidikan sesuai nurani dan talen masing masing. Walau demikian, sebagai seorang ibu tak melepas begitu saja. Trak tetap disediakan sang ibu.
“Kami lalu membawa anak anak ke sejumlah pendidikan yang berbasis pesantren. Kami datangi yang dianggap banyak kalangan itu berkualitas, ternyata itu sesuai dengan minat mereka. Jadi itu awalnya kenapa semua anak kami pendidikan ke tahfidz, bukan ilmu sain umum. Walaupun saya seorang dokter dan ayahnya politisi. Itu pilihan mereka,” ceritanya lagi.
Tentang pendidikan ilmu agama yang kini ditekuni keempat anaknya, Siti Wasilah menyebutkan sebenarnya dia juga pernah mengenyam hal sama hanya saja beda metode.
“Ayah dan ibu saya guru SD, kami hidup di lingkungan masyarakat agamis yaitu Kota Martapura. Setiap malam kewajibannya adalah belajar mengaji Alquran,” ujarnya lagi.
Kini keempat putranya tengah mengenyam pendidikan ilmu tahfidz Alquran di sekolah berbeda.
Putra sulung mereka Jundi Muhammad kini studi di sebuah perguruan tinggi di Turki.
Yang kedua Syarif Hidayatullah belajar di sekolah moderen berbasis Islam GIBs Batola Kalimantan Selatan. Kemudian Muhammad Al-Fatih mondok di sebuah pesantren kawasan Banjarbaru sedangkan si bungsu Royyan Fathurrobani sekolah di SD Islam Terpadu Ukhuwah Banjarmasin.(uumsri/foto net)





















