BANJARMASIN aktualkalsel.com–“Istilahnya kurang percaya diri itu memang ada,” ujar Shinta Laksmi Dewi, ketika bersama anggota DPR RI Hj Aida Muslimah Rosehan membahas tentang peran perempuan Indonesia di seminar sehari yang diselenggarakan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Kalsel Kamis 22 Desember 2022 di Banjarmasin.
Diakuinya rasa kurang ‘pede’ itulah yang menjadi kendala domestik bagi perempuan ketika hendak melangkah menembus dunianya yaitu rumah dan keluarga.
“Ada bisikan pikiran domestik perempuan yang menganggap biarlah dunia karier itu dunia kaum pria. Padahal perempuan itu sejatinya memiliki multi talenta, bakat,” ujarnya.
Mengatasinya, menurut ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kalsel dan ketua Ikatan Wanita Perempuan Indonesia (Iwapi) Kalsel ini, oadalah perlu suport dari keluarga, suami, anak, orangtua dan saudara.
“Dengan suport keluarga inshaa Alloh kendala domestik bisa diatasi. Saya sebagai seorang muslim memposisikan suami itu sebagai imam yang saya taati. Setiap hendak menapaki pekerjaan baru perlu izin dan ridho beliau. Ketika dilarang, saya patuh dengan keputusan suami, namun di lain kesempatan saya ajukan lagi di suasans yang lebih kondusif, dijelaskan lebih deteil lagi, ini manfaatnya bagi orang banyak, biasanya ada perubahan dari keputusan suami,” ujarnya.
Walau ada kondisi soal domestik ini, menurut Dewi, perempuan Indonesia sudah membangkan partisipasinya mendukung perekonomian bangsa.
“Datanya dari dana kredit usaha rakyat, 67 persen dikucurkan untuk UMKM dan 60 persennya diserap oleh usaha yang dinakhodai perempuan,” ungkap Dewi.
Hal senada diakui Aida Muslimah Rosehan. Masalah domestik perempuan juga sempat membayangi dirinya sebelum terjuan ke panggung politik yang khas dengan hiruk pikuk aura pria.
“Alhamdulillah di awal langkah ke politik dukungan penuh datang dari suami dan anak anak saya. Saya semula tak menyangka, bahkan mereka bilang ‘mama pasti busa’,” ujar Aida yang kini menjadi anggota Komisi II di Senayan, Jakarta.
Kendala domestik inilah, menurut dia, yang sepertinya ikut mempengaruhi mengapa kuota 30 persen perempuan di palemen kita belum tercapai.
“Di Senayan baru ada kisaran 20 persen-an lebih sedikit lah keterwakilan perempuan dari kouta 30 persen. Saya rasa tidak berbeda jauh kondisinya di tingkat provinsi, kota dan kabupaten,” ujarnya.
Walau kini sebagai seorang istri dan ibu dia harus membagi waktunya antara Senayan Jakarta dengan keluarga di Jl S Parman Banjarmasin namun bisa dijalani dengan seimbang karena dukungan keluarga tadi.
“Ketika bersama keluarga lalu anak atau suami minta dibuatkan menu makanan. Saya mengerjakannya dengan sangat senang. Dan ini sering kami lakukan,” ujar politisi dari PDI Perjuangan ini.(uumsri)




















