BANJARMASIN aktualkalsel.com–Itulah sepotong dialog Cut Putri kepada Alloh SWT sambil terus mengoperasikan handycamp di tengah dahsyatnya gelombang tsunami menggulung permukaan wilayah Banda Aceh pada 2004 silam.
“Waktu gelombang pertama datang, saya bersama keluarga dan beberapa tetangga berada di teras lantai 2 rumah famili yang kami tinggali selama liburan di Aceh,” tutur Cut Putri dalam video yang ditayangkan serambinews mengenang 18 tahun lalu tsunami dahsyat itu.
“Di luar, sekira hanya satu meter di bawah teras kami berdiri, gulungan air hitam dari laut melaju di hadapan kami dengan membawa reruntuhan bangunan bahkan ada seorang ibu duduk tak berdaya di antara reruntuhan yang larut itu, dari jarak beberapa meter kami hanya mampu mengingatkan si ibu agar terus zikir. Dia semakin jauh tak kelihatan,” cerita Cut Putri ketika dia kembali ke rumah itu. Dia pun mengenang flashback 18 tahun lalu, di rumah yang sama di tanggal sama.
Hari itu Minggu 26 Desember 2004. Memasuki pekan kedua Cut Putri bersama beberapa famili dari Jakarta berlibur sekaligus menghadiri acara tradisi prapernikahan kerabat di Aceh ini. Dalam sepekan, beberapa tempat mereka kunjungi termasuk ke Sabang dan pada Sabtu 25 Desember menikmati indahnya pantai Lumpuuk yang berjarak kisaran satu kilometer dari rumah.
Satu benda yang selalu melilit di jemarinya adalah handycam.
“Semua tempat yang kami kunjungi saya abadikan dengan handycam ini, tak ketinggalan kapal PLTD Apung milik PLN yang ukuran besarnya tak kepalang,” cerita Cut Putri lagi.
Semua direkamnya dalam camera tangan itu, juga wajah wajah ceria rombongannya dari Jakarta. Tampak Cut Putri masih remaja.
Jam sekitar pukul 8 pagi ketika sebuah stasiun televisi swasta nasional di Jakarta menayangkan liputan di Aceh. Untuk pertama kalinya di Aceh dilaksanakan perayaan natal, ujar suara seorang wartawati. Sementara rombongan Cut Putri bersiap untuk sarapan sebelum berangkat ke acara pokok, prosesi prapernikahan anggota keluarga besarnya.
Tiba tiba terasa ada getaran. Berulang. Dari dalam rumah mereka saling pandang, kemudian berhamburan keluar menuju pekarangan. Tampak pemilik rumah yang seorang anggota polri berada disana. Mengenakan pakaian dinas lengkap. Memberikan arahan kepada apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyelamatkan diri.
Goncangan semakin keras, bersamaan dengan rasa waswas meninggi tampak orang orang panik berlarian menuju arah keluar kompleks. Sambil berteriak ‘air tinggi, air tinggii ..’ beberapa detik kemudian terdengar suara mirip deru truk ngebut, semakin keras bahkan menjadi seperti suara pesawat yang hendak menabrak ke arah mereka. Saking kerasnya suara itu.
Semua yang berada di halaman dihalau untuk kembali masuk ke rumah dan langsung ke lantai 2. Air pasang datang cepat dan keras, beberapa warga yang berlarian ada pula ikut menyelamatkan diri ke rumah itu.
“Saya ikut menghalau mereka untuk cepat naik. Dengan handycam terus bekerja saya coba membantu tiga anak yang datang belakangan. Saya terakhir menuju lantai 2 itupun sempat terpeleset di tangga sementara air dengan cepat hampir mencapai langit langit lantai 1,” ujar Putri lagi.
Lantai 2 rumah itu penuh dengan keluarga dan warga. Tetapi, Putri tak melihat sosok sang paman, pemilik rumah yang saat sama sama berada di halaman tadi mengenakan pakaian dinas polisi lengkap. Semua mencari dengan tangisan, tetapi tak tampak. Menit menit berikutnya Cut Putri berdiri di pinggir teras lantai 2. Tetap dengan handycam on. Dia rekam gulungan gelombang hitam yang dengan ganasnya menyeret rumah rumah hanyut. Air semakin tinggi, duasana semakin tragis. Dari dalam yang terdengar hanya zikir, memohon pertolongan Alloh SWT. Saat itulah, saat harapan manusia hanya bergantung pada Robb-nya, saat merasa gemuruh gulungan gelombang tinggi dan hitam itu akan menjemput ajal mereka. Cut Putri berdialog dengan Tuhan nya dengan kepasrahan jiwa yang total.
“Yaa Alloh bila hamba harus mati di telan gelombang ini bersama seisi rumah, hamba ikhlas. Tetapi hamba menitipkan rekaman camera ini kepada ENGKAU untuk diputarkan kepada dunia betapa besar kuasa ENGKAU yang menghadirkan tsunami ini serta menakdirkan hamba berada disini,” itulah dialog dalam doanya.
Dan, beberapa jam setelah tsunami terbesar dengan korban jiwa ribuan dan meluluhlantakkan Aceh, rekaman Cut Putri tayang di beberapa saluran televisi swasta nasional. Itulah rekaman tsunami pertama yang beredar dengan sudut pengambilan sangat menyentuh dan menguras air mata pemirsa seluruh dunia.
Bagaimana Cut Putri bisa menyelamatkan handycam-nya hingga sampai ke redaksi televisi, sementara tsunami menghancurkan semua akses transportasi dan komunikasi? Dalam bagian kedua, dari dua tulisan ini akan ada ceritanya.(uumsri/foto net)



















