BANJARMASIN aktualkalsel.com—Terletak di pusat Kota Banjarmasin tak membuat nasib kanal yang berdampingan dengan jalan raya terjaga dan rapih.
Bahkan sebalikya justru dibiarkan sepanjang tahun ditumbuhi aneka gulma seperti eceng gondok, rumput belukar serta tanaman liar lain yang membuat aliran sungainya menjadi sangat sangat tersendat. Itulah kondisi Kanal Veteran, salah satu dari sepuluh kanal yang dibuat pada zaman penjajahan Belanda.
Pada saat bencana banjir parah yang menerpa kota bertajuk ‘seribu sungai’ ini sempat ‘dituduh’ sebagai salah satu penyebab tidak normalnya aliran air kiriman dari utara dan curah hujan, hingga banjir tinggi mengepung sebagian besar wilayah Kota Banjarmasin.
“Ketika itu sempat dilakukan pembersihan sepanjang kanal ini, seluruh gulma yang sebagian besar eceng gondok diangkat,bahkan ada beberapa kios di Pasar Kuripan dibongkar karena dianggap menyumbat aliran air,” ujar Noor, warga di sana.
Sayangnya, paskabanjir kanal dengan panjang hampir 3,5 kilometer itu dibiarkan menjadi ladang bagi aneka gulma hingga nyaris tidak lagi terlihat permukaan airnya.
“Kecuali di beberapa titik seperti depan kampus Fak Kedokteran yang bebas gulma hingga nanpak bersih, asri,” ujar warga tadi.
Kondisi Sungai Veteran demikian ini juga disayangkan oleh kalangan relawan dan pecinta sungai di Banjarmasin.
“Sungai yang dipenuhi gulma jelas berpengaruh terhadap tidak lancarnya aliran air. Sekarang memang curah hujan belum tinggi baik di Banjarmasin maupun di kawasan hulu kota jadi belum terasa kemacetan airnya,” ujar relawan masyarakat pecinta sungai di Banjarmasin Hasan Zainudin, Selasa 17 Agustus 2021.
Relawan yang juga jurnalis ini menawarkan sebenarnya kanal yang bermuara ke Sungai Martapura di bagian ujung baratnya ini, bisa disulap menjadi kawasan asri dan indah.
“Kita siap saja bekerjasama dengan pemko Banjarmasin untuk mengubah gulma gulma itu menjadi sungai berbunga lili atau teratai. Jauh akan lebih indah apalagi kanal ini berdampingan dengan jalan raya,” ujar Hasan.
Cara penanamannya, ujarnya, tentu diatur agar tumbuhnya tidak menutup permukaan sungai.
“Ibratanya di satu spot sungai hanya tumbuh satu dua rumpun teratai saja, itu ketika air pasang dan teratai berbunga , menjadi pemandangan yang inspiratif,” ujarnya.
Menurut Hasan, komunitasnya sudah menanam cukup banyak teratai di kawasan berair di Banjarmasin. Diakuinya tidak semuanya tumbuh dengan subur.
“Bahkan ada juga yang tidak berhasil tumbuh seperti di Sungai Tatas. Entah kenapa gak bisa tumbuh di sana,” ujarnya.
Sebaliknya, ujar dia, ada yang tumbuh indah tetap dianggap gulma oleh pihak petugas Pemko Banjarmasin lalu dibersihkan seperti membersihkan gulma eceng gondok.
“Itu pernah terjadi di sungai kawasan A Yani, petugas tidak paham, tetatai dianggap mereka gulma, lalu dibasmi,” ujarnya.(uumsri)




















