BANJARMASIN aktualkalsel.com–‘Hukum karma akan berlaku’. Atau, ‘tunggu hukum karma sebagai balasan’. Itu ucapan yang sering kita dengar bahkan mungkin kita ucapkan ketika dizalimi seseorang dan mengira orang tersebut akan mendapat balasan karma.
Tetapi, benarkah ‘hukum karma’ itu ada dan bagaimana menurut Islam?
“Islam tidak mengenal hukum karma, setahu saya itu di agama lain, selain Islam,” ujar Ustad Riza Rahman Lc di hadapan jamaah Sholat Magrib Masjid Al Jihad Banjarmasin Kamis 3 Februari 2022 malam.
Sebab, menurut ulama di Banjarmasin ini, kedzoliman seseorang sudah pasti akan mendapat ganjaran dosa dari Alloh. Dan setiap dosa akan kita pertanggungjawabkan di akhirat dengan mebdapatkan siksa di neraka.
Bila toh, seumpama ada seseorang yang dzolim kemudian dia mendapatkan kedzoliman di dunia dari orang lain yang seolah itu sebagai ‘karma’ atas kedzoliman yang pernah dilakukannya, maka sesungguhnya itu merupakan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Alloh.
“Dan ketentuan masalah yang diperolehnya itu sesungguhnya sudah ditetapkan Alloh jauh sebelum dia lahir. Jadi tidak ada hubungannya sebagai karma atas kedzoliman yang dilakukannya,” ujar ulama di Banjarmasin ini.
Bila kita mempercayai adanya ‘hukum karma’ maka ini, menurutnya, sudah masuk ke ranah hal ghoib yang hanya hak Alloh mengetahuinya.
Sebab, bila kita pahami bahwa setiap musibah yang menimpa manusia adalah sebagai ‘karma’ dari perbuatannya, maka para Rasul Alloh dalam menjalankan dakwahnya juga mendapat banyak sekali masalah, tantangan, siksaan maupun intimidasi.
“Apakah ini berarti karma? Tentu bukan, ini proses Alloh hendak meninggikan kemuliaan para Rasul Nya,” jelas Ustad Riza Rahman.
Nabi Ayub selama berpuluh tahun menderita sakit yang belum pernah diderita manusia lain hingga saat ini. Tentu, ujar Ustad Riza, ini bukan lah karma karena Nabi Ayub tidak pernah melakukan kedzoliman atau apapun yang bertentangan dengan ajaran Alloh. Kalau musibah disebut sebagai karma, lalu untuk perbuatan dosa apa yang dibuat Nabi Ayub?
“Tidak ada dosa yang dibuat Nabi Ayub melainkan penyakit yang diderita beliau adalah sebagai cara Alloh untuk meningkatkan kemuliaan Nabi Ayub dan sebagai peringatan bagi istrinya,” jelas ulama ini lagi.(uumsri)

















