BANJARMASIN aktualkalsel.com—Dikenal masyarakat Banjar sekarang sebagai Sungai Kerokan, ternyata alur air yang memisahkan kawasan Jafri Zamzam dengan Rawasari itu mempunyai nama asli yang berbau aristokrat atau kerajaan.
Tercatan dalam iventaris aset geografis Pemko Banjarmasin sebagai satu dari sepuluh kanal peninggalan Belanda di Banjarmasin, sungai yang bentuknya paling unik ini menjadi kanal terpanjang keempat yaitu mencapai 2,8 kilometer lebih.
Terbilang unik, karena bentuknya tidak sepenuhnya lurus, di bagian selatan atau persisnya di kawasan depan Stadion 17 Mei Banjarmasin, aliran sungainya terpecah karena ada beberapa ‘miniatur pulau’ yang berisi bangunan milik pemeritah termasuk sebuah sekolah dasar.
Setelah melintasi jembatan Rawasari aliran kanal ini lurus hingga menuju kawasan Jl Pangeran Muhammad Noor atau dikenal sebagai kawasan Pasir Mas, lalu bergabung dengan alur Sungai Barito.
Di kalangan masyarakat kanal ini familiar dengan sebutan Sungai Kerokan yang sepanjang tepian sisi jalan sampai pertengahan 80 an masih menjadi permukiman kumuh oleh bangunan ‘liar’ serta warung. Dalam daftar sepuluh kanal peninggalan Belanda di Banjarmasin sungai ini ditulis dengan nama berbau kerajaan persisnya diambil dari satu nama raja di Kalimantan yaitu Mulawarman: Kanal Mulawarman.
Obyek Wisata Kanal Mulawarman yang terdiri dari aliran sungai dengan beberapa ‘miniatur pulau’ sering mengalami pendangkalan oleh lumpur dan limbah permukiman di sekitarnya. Seperti kanal kanal lainnya pada 2021 dilakukan pengerukan untuk mengatasi banjir yang melanda Banjarmasin hampir selama tiga pekan.
Pemko Banjarmasin berupaya untuk merehabilitasi kanal tersebut dengan dirancang menjadi kawasan wisata. Sayangnya rencana yang sudah diekspos itu terhenti.
Kepala Dinas Pariwisata Banjarmasin Ikhsan Alhaq membenarkan adanya rencana rehabilitasi Kanal Mulawarman sebagai obyek wisata.
“Untuk pengembangan kawasan kerokan di depan stadion 17 Mei itu terkendala adanya aset milik Provinsi Kalsel,” ujar Ikhsan kepada aktualkalsel.com Rabu 14 Juli 2021.
Menurut dia, untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata, harus jelas dulu soal status aset ini.
Selain itu, ujarnya, pengembangan itu nantinya bukan hanya menjadi job dinas pariwisata tetapi ada beberapa dinas lain lagi terlibat.
Hanya saja, menurut Ikhsan di situasi pandemi sekarang, tentu prioritas yang lebih mendesak adalah mengupayakan pananggulangan copid ketimbang soal pemanfaatan kawasan Kanal Mulawarman ini. (uumsri)















