FENOMENAL!
Kemenangan Sukamta-Abdi Rahman di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tanah Laut (Tala) 2018 memang fenomenal. Sukamta bukan hanya berhasil mengalahkan Bambang Alamsyah yang nota bene adalah sang petahana, tetapi sekaligus mengakhiri politik dinasti Adriansyah yang sudah dibangun dalam 15 tahun terakhir.

Tentu ini di luar prediksi banyak kalangan. Sebab majunya Bambang berpasangan dengan mantan kepala Bappeda Tanahlaut Ahmed Nizar ini digadang-gadang akan kembali melanjutkan kepemimpinan keluarga besar Adriansyah di Tanahlaut untuk lima tahun kedepan. Melengkapi skenario angka empat periode: dua periode Adriansyah dan dua periode sang anak.
Di atas kertas pun
rancangan hitungannya demikian. Bambang mempunyai kans besar untuk menang. Itulah sebabnya sederat nama partai politik besar melabuhkan dukungannya di gerbong panjang yang mengusung putra sulung Adiansyah ini. Ada Partai Golkar, Nasdem, PDI Perjuangan, PPP, Partai Amanat Nasional (PAN), Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kalkulasi politik yang wajar, tentunya.
Itu berarti kekuatan yang ada di gerbong Sukamta tertinggal tiga parpol yang domotori Gerindra, Partai Kesejahteraan Sosial (PKS) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Tak heran bila ada yang mengibaratkan persaingan ‘tidak berimbang’.
Tetapi dunia politik punya jalannya sendiri. Tidak ada kekuasaan yang abadi.
Apalagi untuk politik trah atau dinasti. Sejarah merekam tidak pula ada yang langgeng bahkan untuk sebuah kerajaan pun. Sudah banyak yang berjatuhan di negeri ini.
Dan yang terjadi di Pilkada Tanahlaut 2018 pun menguatkan sejarah itu. Bambang sang petahana, putra bupati dua periode, didukung penuh kekuatan parpol besar, harus tumbang.
Maka menjadi saksi pula, perebutan kursi Tanahlaut Satu , kala itu, merupakan catatan penuh dinamika sekaligus mengejutkan. Prediksi pakar politik banyak yang rontok.Pilkada Tanahlaut yang head to head ini menempatkan Bambang sebagai petahana harus berhadapan dengan mantan wakilnya. Sukamta adalah wakil Bambang ketika memimpin Tanahlaut periode 2013-2018. Kenyataannya Bambang kalah di tangan sang wakil.
Mari diurut ke belakang lagi, Sukamta bukan hanya menjadi wakil Bambang selama lima tahun tetapi dia juga merupakan birokrat ‘tempaan’ Adriansyah, ayahanda Bambang. Ketika Adriansyah memimpin Tanahlaut selama sepuluh tahun, Sukamta merupakan salah seorang pejabat kepercayaan sekaligus andalan. Kalau tidak istimewa di mata Adriansyah, tentu tidak akan dipilih untuk mendampingi sang anak maju di Pilkada 2013.
Ketika Sukamta mendampingi Bambang maju di Pilkada Tanahlaut 2013, masa kepemimpinan Ardiansyah tinggal menghitung bulan. Bambang sendiri waktu itu baru saja melepas jabatannya sebagai ketua DPRD Tanahlaut. Bisa dihitung betapa kuatnya dinasti keluarga ini. Sang ayah sebagai bupati dan anak sebagai ketua dewan.
Setelah pertarungan politik berakhir dengan kekalahan Bambang, keduanya kembali ngantor bersama, setelah masa cuti kampanye mereka berakhir. Bambang sebagai bupati dan Sukamta wakilnya. Ini berlangsung hampir satu bulan hingga masa kepemimpinan keduanya berakhir pada 24 Juli 2018.
Kemudian, Bambang kembali bersibuk sebagai politisi PDI Perjuangan sedangkan Sukamta menjalani keseharian sebagai seorang ASN nonjob. Baru pada 19 September 2018 pasangan Sukamta-Abdi Rahman dilantik Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor sebagai pemimpin di bumi berjuluk Tuntung Pandang ini.
Tercatat suami dari Hj Nurul Hikmah ini sebagai bupati Tanah Laut ke15 menggantikan Bambang yang menjadi bupati ke 10. Rentang waktu antara Bambang dan Sukamta, hanya beberapa bulan namun ada empat pjs bupati pada 2018 itu.
Demikian sepotong dari perjalanan panjang seorang Sukamta, putra Dusun Semen, putra kebanggan seorang ayah bernama Suharto. Sebuah dusun di Pulau Jawa , sebelum dia dipercaya masyarakat seberang pulau yakni Kab Tanah Laut, Kalimantan Selatan, untuk memimpin mereka.
Tahun ketiga menjalankan amanah memimpin kabupaten ini, ayahanda Suharto meninggal dunia.
Putra Dusun
Sukamta lahir di sebuah dusun kecil di kawasan Daerah Istimewa Khusus Jogyakarta, bernama Dusun Semen, Kulon Progo pada 1963. Ayah dan ibunya adalah pasangan petani sederhana yang membesarkan Sukamta dengan kearifan kultur Jawa. Mereka tinggal dalam keluarga lengkap hingga Sukamta menamatkan pendidikan sekolah menengah atas (SMA).
Kepada sebuah media online Sukamta pernah bercerita tentang perjalanan hidupnya hingga sampai ke bumi Kalimantan Selatan. Katanya itu garis hidupnya sehabis tamat SMA. Dia yang bercita-cita ingin menjadi seorang guru tak mendapat restu sepenuhnya dari keluarga.
Adalah paman Sukamta seorang guru di masa itu. Dia yang tak memberikan pencerahan tentang cita-cita sang keponakan. Alasannya menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang menjanjikan secara ekonomi. Kondisi masa itu belum lagi berpihak pada profesi guru. Lalu si paman memaparkan pengalaman pribadi sebagai seorang guru yang gambarannya benar-benar seperti lagu ‘Oemar Bakri’ nya Iwan Fals.
Sukamta dan kedua orangtuanya seolah tak berdaya mempertahankan cita-cita luhur ini. Apalagi setelah itu datang tawaran dari keluarga di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kiranya Sukamta bisa migrasi ke pulau terbesar di Tanah Air ini. Alternatif usulannya adalah mencoba peruntungan mengikuti pendafaran di sebuah lembaga pendidikan tinggi milik Kementrian Dalam Negeri.
Awal tahun 80-an, Sukamta untuk pertama kali menginjakkan kaki ke bumi Antasari ini. Nasib baik berpihak padanya, dia diterima sebagai mahasiswa ikatan dinas pada Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Banjarbaru. Sebuah lembaga pendidikan yang melahirkan sangat banyak pejabat dan kepala daerah setingkat gubernur dan bupati di Kalimantan Selatan. Rudy Ariffin, gubernur Kalsel periode 2005-2010-2015 adalah salah satunya.
Lulus tepat pada waktunya dia kemudian memasuki dunia birokrasi dengan pangkat 2C. Walau sebagai alumnus praja muda, tugas perdana yang diembankan padanya bukanlah job bergengsi.
“Tugas saya membuat amplop surat,’ ujar Sukamta ketika berbagi cerita tentang perjalanan panjang sebagai seorang aparatur sipil negara (ASN).
Tak lama dia berada di pos surat menyurat dinas itu, kemudian dimutasi. Kali ini job nya lebih bersesuaian dengan ilmu yang digelutinya selama hampir empat tahun. Sukamta ditempatkan sebagai ajudan bupati yang kala itu dipegang oleh Kamaruddin Dimeng, seorang perwira TNI. Dia pun memasuki dunia protokloer sebuah pemerintahan.
Selama 1983-1988 ‘mengawal’ bupati, dia kemudian memilih untuk meneruskan pendidikan di Institut Pemerintahan Pusat (IPP) di Jakarta. Dari sana karir-nya sebagai abdi Negara mulai berangkat naik. Dia dipercaya sebagai kasubag humas Pemerintah Kabupaten Tanahlaut. Pos yang sebenarnya tidak jauh dari dunia protokoler bupati.
Masa itu Kabapaten Tanahlaut dipimpin Bupati H Totok Soewarto. Dari jabatan kasubag humas itu, dia kemudian berpindah ke job yang agak beda yaitu ke Dinas Kehutanan. Konon, di pos barunya Sukata ikut membidani lahirnya Taman Labirin yang menjadi salah satu destinasi wisata kabupaten pesisir ini.
Di masa sepuluh tahun kepemimpinan Bupati Adriansyah, dia sempat kembali ke bagian humas untuk kemudian dipromosikan sebagai kepala bagian organisasi. Total jenderal pengabdian Sukamta selama 37 tahun sebagai abdi Negara, dia sempat bersama enam bupati Tanahlaut.
Ikut menjadi bagian prosesi pergantian enam bupati di kabupaten sama, adalah perjalanan karir seorang pegawai negeri yang bukan biasa biasa saja. Apalagi, ayah tiga anak ini, selanjutnya mencatat loncatan karir sebagai birokrat yang luar biasa. Dari kepala bagian, kemudian menjadi wakil bupati lalu sebagai orang nomor satu di kabupaten dengan wilayah sebelas kecamatan ini.
Kalau Bambang Alamsyah adalah satu-satunya bupati Tanahlaut yang berasal dari kalangan politisi, maka Sukamta adalah bupati Tanahlaut pertama yang berasal dari kalangan birokrat sejati. Sebab selama 37 tahun dia tidak pernah keluar dari pemerintah daerah di sana. Bahkan, saat ini, dia satu-satunya bupati di Kalimantan Selatan yang karir di birokratnya tulen seperti ini. (tim)















