DIA dikenal sebagai kiai khos –sebutan kiai sepuh di kalangan Nahdhatul Ulama karena mempunyai kharisma dan pengaruh besar serta posisi disegani– yang dimiliki masyarakat Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Kabupaten yang dikenal dengan julukan ‘Serambi Mekkah’ nya banua atau Kalsel, karena banyaknya memiliki majelis taklim dan pondok pesantren serta melahirkan sejumlah ulama besar.
Guru Khalil, demikian Bupati Kabupaten Banjar periode 2016-2021 ini biasa disapa dan dikenal oleh warganya. Nama lengkap dan formalnya adalah KH Khalillurrahman. Wajar status kiai khos disematkan kepada suami Hj Raudatul Wardiyah ini karena penguasaannya yang luas dan pengalaman sangat banyak di bidang ilmu agama Islam.
Sebelum mendapat dukungan suara mayoritas pada Pilkada Bupati Banjar 2015 untuk memimpin salah satu kabupaten terluas di Kalimantan Selatan ini, Guru Khalil adalah seorang pengajar sekaligus pemimpin pesantren tertua dan terbesar di Kabupaten Banjar yaitu Pesantrean Darussalam yang terletak di pinggiran anak Sungai Martapura.
Dia juga ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Banjar periode 1988-1992. Sebagai Rais Suriyah NU Kabupaten Banjar di rentang waktu 2003-2008. Ketua Dewan Sura DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Banjar 1999-2004 dan sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banjar periode 2007.
Dakwah Islam dan dunia pendidikan pesantren bagi Guru Khalil ibarat ‘darah tetesan trah’ keluarga. Itu diwarisinya bukan hanya dari ayahanda-nya KH Salim Ma’ruf –kini almarhum– tetapi dari beberapa generasi sebelum sang ayah. Mereka adalah bagian dari pilar-pilar kekuatan , keberlangsungan dan wibawa Darussalam sebagai pesantren dan pondok pesantren yang dibanggakan masyarakat Kalsel. Pesantren dengan ribuan santri yang datang dari berbagai pelosok Tanah Air.
Sang ayah , KH Salim Ma’ruf semasa hidupnya juga sempat memimpin pondok pesantren Darusallam ini sebagai angkatan keenam. Ya sebagai pemimpin juga sebagai guru di sana. Menemui para santri dari satu kelas ke kelas lainnya adalah rutinitas hariannya sampai akhir hidupnya. KH Salim Ma’ruf meninggal dunia 38 tahun sebelum sang anak dilantik sebagai Bupati Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Setahun setelah menjalani tugas sebagai bupati, KH Khalillurrahman memimpin acara haul ke 39 meninggalnya ayahanda-nya. Dipimpin seorang anak yang saat itu merupakan orang nomor satu di daerahnya, membuat haul itu menjadi pusat perhatian di sana.
Disirami gerimis hujan, makam yang berada di Kampung Keramat, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar itu dipenuhi ribuan jamaah yang mengikuti pembacaan doa dan zikir, termasuk jajaran pejabat dan politikus. Antusias besar seperti ini tentu saja tidak bisa dipisahkan dan pengaruh Guru Khalil, sang bupati.
Guru Khalil memang istimewa, khususnya di mata keluarga. Dia bukan hanya berhasil menjadi menerus ayah dan kakek kakeknya sebagai seorang ulama dan kiai khos di Kabupaten Banjar, tetapi berhasil semakin mewarnai dengan kental kebijakan kebijakan birokrasi pemerintahan di sana dengan nilai nilai islami.
Bupati Tertua
KH Khalillurrahman meninggakan beberapa catatan istimewa bagi masyarakat yang dipimpinnya. Selain sebagai kiai khos pertama yang menduduki jabatan orang nomor satu di Kabupaten Banjar, dia juga merupakan pemimpin tertua dalam sejarah pelaksanaan pelantikan kepala daerah di Kalimantan Selatan.
Wajar, kemenangannya di Pilkada 2015 itu dirasakan sebagai sebuah anugrah yang membuat warganya bangga dan bersuka hati. Sebab, mereka harus menunggu berpuluh tahun pascakemerdekaan Indonesia, untuk bisa memiliki seorang pemimpin daerah yang juga sebagai ulama kharismatik.
Dan, adalah sebuah kewajaran pula keinginan demikian, mengingat Kabupaten Banjar terkenal sebagai daerah yang agamis. Selain memiliki pondok pesantren dan mejelis taklim terbanyak hingga dijuluki sebagai ‘Serambi Mekkah’ nya Kalsel dan sebagai ‘Kota Santri’, lebih dari itu adalah di tanah itu ‘lahir’ sejumlah ulama besar Nusantara bahkan dunia Islam internasional.
Pada pilkada yang berlangsung 9 Desember 2015 immayoritas suara diamanahkan kepada KH Khalillurrahman yang berpasangan dengan H Saidi Mansyur. Beda usia cukup mencolok jauh antara bupati dan wakil ini digambarkan sebagai sinergi dua generasi.
Guru Khalil berusia hampir 71 tahun ketika dilantik sebagai bupati Banjar ke 19 oleh Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor pada 17 Februari 2016 dengan masa tugas hingga 2021. Dia tercatat bukan hanya sebagai kandidat tertua di pilkada serentak di Kalsel itu tetapi juga tertua sebagai kepala daerah yang mengawali masa jabatannya yaitu di usia kepala 7.
Sebelum kemenangan yang menghantarkan sang kiai sebagai orang nomor satu di bumi berjuluk ‘serambi mekkah-nya Kalsel’ itu, terjadi kejutan di perpolitikan daerah itu. Adalah ketika nama KH Khalillurrahman disebut sebagai salah satu kandidat Pilbub Kabupaten Banjar, banyak yang bertanya: hoax kah?Bukan karena menyangsikan kemampuan dan kualitasnya melainkan lebih pada faktor usia yang pada momentum pencalonan itu sudah berusia 70 tahun. Seusia ketika HM Suharto menyatakan diri mundur –istilahnya lengser ke prabon– dari jabatannya sebagai Presiden RI,
Belum lagi selama ini tidak ada tanda riak bahwa kiai khos dari Pesantren Darussalam ini akan ‘back go public’ setelah belasan tahun meninggalkan dunia politik praktis dan mmeilih berkhidmat di pontren yang dipimpinnya. Kalau toh keluar beliau keluar pontren itu untuk keperluan dakwah sebagai seorang ulama.
Kenyataannya, Guru Khalil memang bukan ulama yang awam hal politik. Di era Orde Baru dia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Banjar dua periode 1992-1992. Di era reformasi kiprahnya justru naik kelas dengan terpilih sebagai anggota DPR RI periode 1999-2004. Ini menunjukkan sudah memiliki strategi jitu bagaimana caranya mendulang dukungan suara. Plus posisinya sebagai ulama sepuh yang dihormati juga menjadi magnet kuat.
Pada Februari 2021, jabatannya berakhir. Kala itu pertanyaan yang ramai terlontar adalah: akankah sang khos kembali maju di Pilkada Banjar untuk periode kedua? Seperti ‘tradisi politik’ kalangan petahana yang tak hendak memimpin hanya satu periode?
Di tengah bergulirnya pertanyaan demikian, sang kiai punya cara arif nan elegan menjawabnya. Pada Senin di Bulan Juni 2020 dia memimpin rapat dengan jajaran ‘kabinet’nya, mengevaluasi kinerja semester awal tahun akhir jabatannya. Semuanya berjalan biasa biasa saja, sampai ketika penghujung rapat kerja itu, dia menyisipkan sikap politik: tidak ikut dalam pilkada Bupati Banjar yang akan dihelat enam bulan ke depan. Dan mempersilahkan wakilnya untuk mengikuti pertarungan politik lina tahunan itu.
Alasannya ada dua: kesehatan berbarengan dengan usia yang sudah 74. Dan, keluarga ingin di sisa umurnya bisa kembali ke pesantren.
Pada Februari 2021 KH Khalil meninggalkan kantor yang ditempatinya selama lima tahun. Dia benar benar kembali ke keluarga. Bahkan ketika wakilnya Saidi Mansyur dilantik menggantikannya setelah memenangi pilkada, sosok kiai ini tidak tampak di momen itu.
Menurut keluarga, paska tak lagi memimpin kabupaten Banjar, dia sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Surabaya karena faktor usia. Setelah itu kesehatannya sempat membaik bahkan pada Idul Adha 20 Juli 2021 bupati Ke 19 Kab Banjar, Kalimantan Selatan ini masih tampak sehat. Namun, hari hari setelah itu kondisinya menurun bahkan sempat kehilangan kesadaran hingga menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu 25 Juli 2021 di rumah pribadinya.
Innalillahi wainnailaihirojiun. Semoga setiap namanya disebut dalam artikel ini menjadi keberkahan untuk almarhum. Aamiin. (uumsri)


















