BANJARMASIN aktualkalsel.com—Kontroversial penggunaan masker di kalangan masyarakat Kota Banjarmasin semakin terlihat, khususnya di kalangan pedagang, baik di pasar maupun pinggiran jalan.
Tatkala pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan copid dengan berbagai kebijaksanaan termasuk kembali ditundanya proses pembelajaran tatap muka (PTM) di beberapa wilayah zona merah, sejumlah besar kalangan pedagang justru sudah semakin menjauhi penggunaan masker tatkala transaksi berlangsung.
Hal itu menjadi pemandangan biasa di pasar pasar tradisional Banjarmasin. Mayoritas pedagang beraktivitas tanpa menggunakan masker. Kebanyakan mereka mengaku meninggalkan masker lantaran merasa sesak bernafas.
“Saya berjualan dari subuh hingga tengah hari, di bawah tenda menghadap timur. Bila menggunakan masker nafas sangat terbatas apalagi bila sudah menjelang siang, ngos ngosan,” ujar Anang, pedagang sayur di Pasar Lama Banjarmasin.
Itulah sebabnya, dia berdagang membawa masker yang kadang diletakkannya di samping duduk atau digantung di leher.
Bukan hanya Anang si pedagang sayur yang ‘mengistirahatkan,” maskernya selama bertransaksi, sejumlah besar pedagang disana melakukan hal serupa. Apalagi pedagang yang aktivitas geraknya tinggi dan berat seperti berjualan beras, mereka mengaku merasa seolah kehabisan nafas ketika mengangkat barang sementara hidung mulut tertutup masker.
Kondisi banyaknya pedagang tanpa masker juga terlihat di pasar induk Antasari Banjarmasin. Khususnya di los bagian dalam yang pengap. Mereka sebagian besar membiarkan wajah terbuka.
Berbeda dengan pedagang, pembeli di pasar pasar tersebut mayoritas justru taat masker.
Kondisi pedagang banyak yang lupa masker ini berlangsung sudah cukup lama, jauh sebelum adanya ‘imbauan’ lepas masker dari dokter kontroversial Louis Owien yang menggegerkan dunia per-covid-an Tanah Air.(uumsri)



















