Kalau ada pertanyaan; pernah dengar nama Roehana Koeddoes disebut?
Jawaban saya: pernah tapi entah kapan, seperti semilir, lalu berlalu. Sampai pada Senin 16 Februari 2026, rekan saya wartawati, ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Kalsel, Mba Sunarti MM, mengirimi pesan watsApp: “mba Uum ikut yuk”, disertai satu fotoshoot semacam pamflet dengan huruf huruf besar di bagian atas; Lomba Karya Jurnalistik 3 Wajah Roehana Koeddoes. Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia.
Ketika membaca empat kata terakhir itu, saya merasa ‘aware’ dengan ajakan rekan tadi. Seperti mendapat arah menuju ‘tunnel’ waktu yang harusnya bisa menjawab ‘tidak dengan kata semilir’ terhadap pertanyaan di awal tadi.Roehana Koeddoes, tentulah bukan sekadar sosok perempuan jurnalis pertama di Indonesia, tetapi pasti punya jejak dan karya historis hebat hingga mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.
Dan, sebagai praktisi jurnalistik puluhan tahun hingga sekarang, saya merasa harus pernah, setidaknya sekali, menulis tentang sosok pionir jurnalis yang ketika wafatnya pada 1972, saya masih menjadi siswa sekolah dasar. Langsung cek syarat lomba tersebut, ternyata sudah berakhir pendaftarannya empat hari lalu.
Tak masalah. Interes terhadap nama sang Pahlawan Nasional ini tetap muncul. Dan, alhamdulillah, tersedia link diskusi bertema ‘Tiga Wajah Roehana Koeddoes’ yang disertakan rekan Mba Narti di WA yang dikirimkannya. Ada film pendek jejak perjuangan almarhumah termasuk ketika memulai terjun ke dunia jurnalistik. Yang menurut saya, sangat sangat visioner, berani san konsisten. apalagi dari seorang perempuan di masa yang kala itu untuk bisa mengenyam pendidikan saja, dianggap melawan kodrat.
Film perjuangan Roehana dengan cepat mengingatkan pada sosok RA Kartini. Ada miripnya, sama sama sebagai pendidik dan sama sama aktif menuangkan gagasan dan persoalan perempuan melalui tulisan. Bedanya, RA Kartini menulis dalam bentuk korespondensi ke seorang sahabatnya gadis Belanda, sedangkan Roehana mengkomunikasikannya tulisannya lebih formal dan masif yaitu melalui penerbitan surat kabar: Soenting Melajoe 10 Juli 1912 sampai 28 Januari 1921. Surat kabar perempuan pertama di masa Hindia Belanda.
Artinya, Soenting Melajoe ketika awal terbit, selang delapan tahun setelah RA Kartini meninggal saat usia 25 tahun, waktu itu Roehana berusia 20 tahun atau lima tahun lebih muda. Walau mereka sempat hidup dalam satu rentang waktu yang sama selama 15 tahun, namun boleh jadi keduanya tidak saling tahu ataupun mengenal nama. RA Kartini berjuang di lingkungan keraton di Jepara, Jawa sedangkan Roehana membaur di perkampungan Kotagadang, Sumatera. Berbeda pulau di masa penjajahan Hindia Belanda, menjadi jarak dan pemisah yang nyaris mutlak, tidak ada istilah koma-koma nya.
Tetapi, mengapa catatan sejarah dan perlakuannya di negeri ini lebih ‘berpihak’ ke sosok RA Kartini? Hingga tanggal kelahirannya 21 April dianggap sebagai momentum perjuangan gerakan kaum perempuan? Dan setiap tahun diperingati di berbagai penjuru negeri ini? Satu pertanyaan ‘menggugat’ dari saya, setelah ada pengetahuan tentang ‘tiga wajah Roehana Koeddoes’ ini. Untuk sementara, saya berhepotesa, mungkin kurangnya tulisan tentang Roehana, sebagai jawabannya.
3 Wajah Roehana
Roehana Koeddoes adalah potret sosok perempuan seabad lalu tetapi memiliki visi se-moderen saat ini. Sangat tepat istilah yang digambarkan Nazwa Sihab dalam forum diskusi 3 Wajah Roehana, bahwa dia punya tiga kemanpuan luar biasa yaitu sebagai perempuan mandiri secara ekonomi, sebagai pendidik serta sebagai seorang jurnalis.
Tiga bakat yang dikuasainya dengan sangat profesional inilah yang menjadi modal dia begitu beraninya menyampaikan gagasan menerbitkan sebuah surat kabar ketika ada kesempatan berdialog dengan pemimpin surat kabar Oetoesan Melajoe. Sosok penting dalam terbitnya Soenting Melajoe. Ibarat orangtua melahirkan anak itulah Oetoesan Mejajoe dengan Soenting Melajoe. Di zaman penjajahan, pula. Dimana yang namanya media baik izin apalagi edarnya sangat sangat under control by Hindia Belanda.
Wajar bila ketika itu, pimpinan surat kabar Oetoesan Melajoe, awalnya tidak yakin dengan proposal yang diajukan Roehana untuk menerbitkan surat kabar perempuan. Surat kabar bukan sekadar masalah tulis menulis informasi atau berita dan selesai setelah naik cetak. Tetapi, media adalah lembaga bisnis yang perlu modal profit untuk kelangsungannya. Media perlu diedarkan untuk sampai ke pembacanya dan harus menghasilkan uang. Informasi itu harus laku jual. Ini perlu strategi bisnis, dapur redaksi harus mampu membaca selera dan keperluan pasar bila ingin tim sirkulasinya tidak gagap berhadapan dengan calon konsumen. Butuh jangkauan edar dan lain lain.

Dan, di masa penjajahan yang bertabur larangan, bagaimana seorang perempuan bisa menaklukannya? Perempuan, yang kala itu, untuk sekadar belajar mengenal abjad saja, harus ‘perperang’ dengan orangtuanya. Pemegang izin paling dekat dengan mereka. Namun, perjalanan perjuangan seorang Roehana sudah mencatatkan itu bisa.

Roehana sudah siap untuk urusan redaksi, bisnis dan garis edarnya. Tiga bakatnya sebagai seorang enterprenur, pendidik dan penulis dikelolanya dengan profesional hingga Soenting Melajoe bertahan sampai sembilan tahun. Masa terbit yang tidak bisa disebut ‘sebentar’ untuk zaman seabad sebelum Indonesia merdeka.
Bagi saya, seorang jurnalis, sosok Roehana Koddoes bukanlah sosok yang harus dicontoh, karena tentu tidak akan mampu. Saya lebih pas untuk menjadikan sosok ini sebagai inspirasi, khususnya dalam kesungguhan dan keteguhannya memperjuangkan semangat ‘menyuarakan hak’ yang seharusnya kita atau bangsa ini miliki. Melalui tulisan. Karena hingga saat ini, masih ada hak dasar rakyat di negeri kita tercinta ini, yang jauh masih belum tercapai. Itu adalah kesejahteraan dan keadilan sosial bagi segenap kita sebagai rakyat.

Akhirnya, saya merasa lega bisa menyelesaikan tulisan ini di sela sela kesibukan padat menyambut tibanya Bulan Suci Ramadhan 2026. Alhamdulillah, masih bisa dikirimkan ke panitia lomba, karena ternyata ada perpanjangan waktu hingga 20 Februari 2026. Tetapi, sekali lagi, bukan hasil lomba yang menjadi interes tulisan ini, melainkan ada sebuah ‘aware’. (umi sriwahyuni/wartawan aktualkalsel.com)














