TANAH BUMBU, aktualkalsel.com — Rencana Pembangunan rumah tahfidz oleh Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu harus didukung.
Hanya saja perlu dipikirkan kelanjutan penanganannya. ” Secara pribadi saya sangat mendukung langkah Pak Zairullah dalam meningkatkan siar keagamaan, hanya saja, para hafidz dan hafidzahnya nanti direkrut dari daerah kita sendiri atau pulau Jawa,” kata Ketua DPRD Kabupaten Tanah Bumbu Supiansyah kepada aktualkalsel.com, Senin ( 29/3/malam, di kediaman pribadinya.
Seperti diketahui dalam mewujudkan Tanah Bumbu sebagai “Serambi Madinah”, Pemkab salah satunya membangun rumah-rumah tahfidz di sejumlah desa.
Dan tahun ini diharapkan ada beberapa rumah Tahfidz yang harus sudah dibangun. Namun perlu diingat, ungkap H.UPI, kembali mengingatkan, ustadz dan ustadzahnya dari mana, dan sejauhmana kemampuannya mengajar?
Selain itu pengajiannya bagaimana? Termasuk murid-muridnya, apakah nanti mondok atau tidak?
Berdasarkan pengalamannya di pulau Jawa, yang namanya rumah tahfidz itu, santrinya mondok, bukan pulang pergi.
Dan jika rumah Tahfidz, misal mengandalkan anak-anak SD, H.UFI mengungkapkan tidak efektif.

” Kenapa tidak efektif, kan anak-anak SD, balik sekolah jam 04.00 WITA sore — jika perhitungan kondisi daerah kita sudah bebas Covid-19. Dan setelah jam itu, waktu anak-anak belajar,” kata H. UPI.
Selain itu, anggaran belajar mengajar bagaimana? Karena tidak mungkin, dalam setiap tahun mengeluarkan bantuan untuk rumah Tahfidz.
Karena itulah, untuk keberhasilan siar islam ke depannya melalui rumah Tahfidz, H.UPI menyarankan, perlu percontohan di 12 kecamatan yang ada.
Jangan dulu langsung dibangun 25 buah sekaligus, seperti yang diketahuinya.
” Bangun dulu, satu-satu disetiap kecamatan. Kalau berhasil baru anggarannya di tambah. Diatas Rp200 juta perbuahnya seperti sekarang,” katanya.
Dan santrinya tinggal di rumah tahfidz setempat. Edwan/SKR




















