BANJARMASIN aktualkalsel.com–Dia baru saja kehilangan seorang buyutnya yang berusia sekitar 21 th pada pertengahan Mei 2024. Beberapa tahun sebelumnya ayah dari sang buyut juga telah berpulang.
“Iya, satu cucu dan satu buyut Nini Kasmir ini sudah mendahului beliau,” ujar Murkan,, anak keempat dari Nini Kasmir kepada aktualkalsel.com.
Nini Kasmir kini menjalani masa sepuhnya bersama sang anak dan keluarganya di sebuah rumah kawasan Belitung Darat, Banjarmasin Barat.
“Lima tahun sudah nini tinggal bersama kami. Sejak ditinggal ayah lebih 20 tahun lalu, mama tinggal bersama anak anaknya. Sebelum bersama saya, beliau di rumah anak bungsunya. Lama di sana,” ujar sang anak lagi.
Ketika harus didahului menghadap Ilahi oleh seorang buyutnya, Nini Kasmir sudah dalam usia uzur hingga tak peka lagi dengan berita duka salah seorang keturunan generasi keempatnya. Di usianya yang diperkirakan lebih seabad ini, dia sudah kehilangan suami, tiga anak, semua saudara, satu cucu dan satu buyut.
“Pernah juga beliau berujar: kenapa yaa aku ini belum juga dipanggil Alloh. Jadi saya jawab, jangan berkata begitu, Alhamdulillah panjang umur bisa bersama kami dua anaknya yang masih hidup,” cerita Murkan lagi.
Kondisi Nini Kasmir memang sudah sangat sepuh. Tetapi masih bisa berjalan walau harus berlahan dan bergeser di dinding. Mandi dua kali sehari dan makan tiga kali setiap harinya, dilakukan sendiri. Hanya pendengarannya yang sudah sangat lemah hingga nyaris tak merespons bicara sekitarnya. Sepanjang harinya banyak dihabiskan dengan duduk duduk sambil berzikir gunakan tasbih.
“Kalau sholat sudah tak bisa lagi, kata beliau sudah lupa,” demikian sang anak.
Mengenai usianya sekarang ada dua catatan yang berbeda. Pertama, ketika pengurus Yayasan Uma Kandung Banjarmasin melakukan pendataan lansia sepuh untuk kegiatan pembinaan mereka, dari satu instansi diperoleh angka 1910 sebagai tahun kelahiran sang nenek.
Artinya di Hari Lansia 2024 usia Nini Kasmir mencapai 114 tahun. Mengambil momentum tersebut pengurus Yayasan Uma Kandung Banjarmasin pun melakukan anjangsana tahunan ke rumah lansia binaan mereka yang tercatat paling tua. Tahun ini adalah Nini Kasmir. Dari silaturahmi tersebut baru muncul usia berbeda yaitu di e-KTP
yang tertulis th 1933 di Banjarmasin berarti berusia 91 tahun. Tetapi tahun kelahiran versi KTP itu masih dikoreksi pihak keluarga sebagai kesalahan informasi dari yang seharusnya 1923. Itu artinya usia sudah melampaui seabad.
Dalam rentang kehidupannya yang kaya pahit getir pengalalaman hidup, Nenek Kasmir seorang perempuan tangguh. Tanggunjawab sebagai seorang ibu untuk lima anaknya, dia bahu membahu bersama sang suami mencari nafkah.
Berbagai pekerjaan dilakoninya mulai sebagai petani upahan yang harus berpindah dari satu sawah ke lainnya hingga di Kapuas, Kalimantan Tengah. Kemudian di usianya yang sudah mulai renta, dia meninggalkan sawah beralih sebagai penjual ikan.
“Setiap hari menunjung waskom yang berisi ikan dari rumah kami di kawasan Belitung Darat ini ke Pasar Lama. Jalan kaki,” cerita Murkan mengenang perjuangan sang mama.
Di sela berdagang, dia masih punya job sampingan yaitu sebagai juru masak panggilan bila warga ada hajatan. Memasak ukuran besar ini dia kerjakan bersama tiga orang adik perempuannya yang kini sudah almarhumah semua. Tetapi, itu sudah lama tak bisa lagi dikerjakannya.
Kini, menjalani kehidupan bersama lima generasinya sebagai ibu dari dua anak yang masih hidup, puluhan cucu, beberapa buyut dan dua cicit yang kini sudah remaja.(uumsri)


















