BANJARMASIN aktualkalsel.com—Klik untuk kata ‘Kensington’ maka akan bermuncumlan foto foto atau video yang membuat kita istigfar: manusia berperilaku zombie manusia raga tanpa jiwa berkeliaran di pinggir jalan raya!
Inilah yang disebut sejumlah youtuber sebagai sisi gelapnya Amerika. Kensington, kota di bagian utara Philadephia, Amerika Serikat dengan julukan Kota Zombie. Tepatnya di Kensington Avenue Street, di bagian utara kota ini.
Disanalah, di sepanjang trotoar pertokoaan yang berkilo kilometer, berkumpul para pecandu narkoba kelas berat yang setiap saat siaga sakau hingga menunjukkan prilaku mirip zombie, tepatnya mayat berjalan. Secara terbuka mereka menggunakan heroin dkk mulai dengan menghisapnya sampai suntikan, secara terbuka. Vulgar.
Komunitas yang jumlahnya nyaris mencapai seribu ini bukan hanya menyuguhkan prilaku yang memilukan tetapi juga setiap saa memproduksi sampah mulai limbah produk makanan, jarum suntik sampai tinja mereka sendiri. Berserakan di seputar tempat mereka duduk, berdiri atau tiarap setelah terjungkal. Tanpa ada hukum untuk mereka.
Di Desember hingga tiga bulan ke depan, Kesington akan menjadi destinasi teratas bagi para youtouber dunia, termasuk Indonesia. Mereka berlomba menyajikan hari perhari atau daily life di sana untuk followersnya dari berbagai belahan bumi.
Para youtuber itu merekam bagaimana para pecandu yang mengambil alih trotoar pertokoan menjadi alam mereka, bertahan melawan dinginnya angin salju. Ada yang sakaw kelojotan, teriak kesakitan seperti meregang nyawa namun belum berujung ajal.
Para pencandu itu nyaris tidak ada yang luput dari kamera vlogger yang leluasa, tanpa harus khawatir ada yang marah terusik kehidupannya. Karena apa? Para addictive itu tidak peduli, jangankan ngurus kamera, untuk berdiri apalagi berjalan saja mereka tidak pernah fokus. Tatkala sakaw, mereka saling membantu menyuntikan zat terlarang di urat nadi leher.
“Kalau sudah di leher ini untuk sakaw tingkat tinggi,” ujar satu youtuber di tayangannya.
Riki Suwandi, youtuber Indonesia di sana menyebut, apa yang di Kensington Street ini berlangsung cukup lama. Di sanalah para pecandu, berbaur dengan gelandangan dan para penjual heroin. Sesekali ada petugas atau relawan.
“Untuk para pecandu, mereka datang dari berbagai kota di Amerika, sengaja menghuni emperan toko agar mudah mendapatkan pasokan heroin sejenisnya,” jelas dia.
Selain para pecandu berat, ada pula pengguna narkoba yang sengaja singgah di sana sekadar untuk beli dan menggunakannya, setelah itu pulang. Tak heran bila mobil mobil yang keluar dari arah Kensington, tampak nengendara setengah mabok.
“Di sini boleh dikata surganya para pecandu, sebab aneka barang haram itu mudah didapat dan muuaarah harganya,” ujar Riki di tayangan youtube nya.
Lalu bagaimana Washington?
Menurut kesaksian Jeffrey, seorang fotografi, dia sudah mengabadikan moment memilukan para sakaw ini sejak 2004 artinya itu sudah berlangsung sejak presiden Obama, lanjut Trump dan kini Biden. Bukannya berkurang justru semakin meluas.
Sebuah televisi Amerika pernah menayangkan Kensington Street didemo oleh warganya yang keberatan dengan para gelandangan sakaw ini. Sebab, itu jalan raya dimana anak anak sekolah atau ibu ibu bisa saja lalu lalang di sana. Nyatanya uang tutup justru toko toko disana dengan alasan tidak aman, bukan aktivitas para pecandunya.
Kensington Street ini, disebutkan youtuber itu, justru diperlakukan semacam pusat ‘rehabilitasinya’ Amerika. Ada relawan yang secara berkala mendatangi orang perorang menawarkan proses penyembuhan dengan cara penggunaan narkobanya dikurangi sedikit demi sedikit, hingga hilang ketergantungannya. Memang ada yang berhasil sembuh atau bersih, tetapi prosentasinya sangat kecil, lebih banyak yang berujung pada kematian setelah kesakitan panjang.
“Kalau di Indonesia kan rehabnya langsung dijauhkan sama sekali dari obat obatannya,” ujar Riki.
Tayangan tentang ‘neraka kensington’ ini kerap mendapat komentar dari nitizen Indonesia begini: “alhamdulillah kita tinggal di Indonesia, tidak ada sampai segininya”!(uumsri)




















