BANJARMASIN aktualkalsel.com–Presiden ke 2 Indonesia HM Suharto adalah pelanggan setia lupis-cenil nya Mbah Satinem, Yogyakarta ini.
Mbah Satinem kini menjadi pusaka untuk dunia kuliner Tanah Air . Bukan sekedar ikon! Melalui paling tidak dua jajanan pasarnya, yakni lupis-cenil kini menjadi buruan para vlogger dalam dan luar negeri. Tidak ketinggalan para jurnalis profesional.

Apa istimewanya lupis-cenil resepan Mbah Satinem?
Sebenarnya bukan dua nama jajanan itu saja yang diproduksidan dijual Mbah Satinem di pojokan satu trotoar Kota Yogyakarta. Ada gatot, tiwul, getuk, ketan putih dan hitam dan ‘teman temannya’ yang lain. Semuanya memggunakan toping kelapa parut plus cairan gula merah (gulmer) yang khas: kental dan merah menghitam! Jaminan rasa yang super legiit.
Namun yang melegenda memang lupis-cenil nya. Bahkan, Presiden ke 2 RI Suharto tercatat sebagai pelanggan setia dua jajanan khas ini setiap berkunjung ke Yogyakarta. Sejumlah vlogger dan jurnalis profesional lokal, nasional dan internasional sudah merilis bisnisnya Mbah Satinem ini. Terbaru dagangan si embah yang tanpa etalase kaca ini muncul di Netflix –sejenis youtube tapi berbayar– dengan judul ‘Street Food Asia’ dan langsung mendunia tanpa alang kepalang. Menjadi tayangan satu cerita dokumenter terasa sangat ‘pusaka’. Sosok Mbah Satinem nge-blend banget dengan pawon, property berikut lupis-cenil dan ‘kawan kawannya’ tadi.
Setelah viral mendunia, tentu lupis-cenil Mbah Satinem akan semakin diburu pecinta kuliner dan antreaan nomor nya semakin panjang. Padahal waktu tayang sangat terbatas yaitu dari subuh hingga pagi hari akan berakhir alias sebelum siang jam pertokoan buka.
Yang berminat silakan ke jalan Bumijo No.50, tepat di depan ruko, tak jauh dari pertigaan yang berbatasan langsung dengan Jalan Diponegoro, Yogyakarta. Tanpa cabang tanpa franchise hanya beberapa kam, buka laku tutup. Setiap hari.
Viralnya lupis-cenil Mbah Satinem mau tidak mau, untuk sementara, menyisihkan ingatan pemburu kuliner tentang gudeg Mbak Lindu di Malioboro yang lebih dulu dianggap melegenda.(uumsri)


















