BANJARMASIN aktualkalsel.com– Ucapan maaf ini inspiratif, menggugah. Keluar dari mulut seorang ibu visioner yang paham betul kemana megarahkan pendidikan tiga putrinya. Tepatnya seperti ini: Ibu minta maaf klo membuat kalian di kondisi tidak seperti anak anak kebanyakan di luar sana!
“Iya, ini yang saya sampaikan pada anak anak ketika melepas mereka ke pendidikan pesantren,” ujar Hj Mariatul Kiptiyah membuka cerita saat memutuskan tiga putrinya untuk belajar di Pesantren Darul Hijrah Putri, Kab Banjar, Kalimantan Selatan.
“Saya tahu ini tidak mudah bagi anak usia remaja. Belajar di pondok pesantren tidak seperti sekolah umumnya, berangkat pagi pulang tengah hari. Di pesantren selain jauh dari orangtua dan saudara juga tidak ada yang namanya hp, benda komunikasi yang untuk sekarang di genggaman hampir seluruh umat, apalagi remaja,” Mariatul menambahkan ceritanya.

Sebenarnya, rasa berat demikian tak hanya dirasakan kalanngan santri, tetapi juga orangtua.
“Jelas, itu kami rasakan juga ketika mengantar si sulung masuk asrana pondok. Saya menangis, menjelang pulang kami bertetangisan,” ujarnya.
Sungguh, ujarnya, melepas tiga putri untuk nyantri perlu persiapan niat kuat.
“Saya jelaskan kepada mereka, karena kami ortu tidak berani bila Alloh menanyakan kenapa anak tidak memiliki ilmu agama. Sedangkan kami pengetahuan agama juga cetek. Kami katakan pula ke mereka, ini pertanggugjawaban orangtua pada Alloh,”
Sebagai perempuan karir, Mariatul sadar betul akan kecetekan ilmu agama. Belasan tahun malang melintang sebagai jurnalis yang terus dikejar deadline, membuatnya lalai membekali diri dengan ilmu agama yang mumpuni. Posisi penting di ruang redaksi pernah dijalaninya seperti bersama Banjarmasin Post, lalu di harian Mata Banua , juga pernah beberapa tahun di majalah fashion dan gaya hidup.
Lepas dari dunia wartawan, dia melabuhkan pilihan karir sebagai pegiat di partai politik Gerindra Kalimantan Selatan. Dua profesi yang mendera waktunya harus bepergian ke satu tempat ke lainnya. Sampai sekarang.
“Saya tidak ingin mewariskan kecetekan ilmu agama ini ke tiga putri kami,” ujar sarjana Bahasa Inggris ini.
Walau tidak memiliki pengalaman pendidikan di pesantren, Mariatul mengaku punya jurus khusus memperkenalkan dunia pesantren ke anak2nya.
Misal, ketika pertama mengatar si sulung, putri tengah dan bungsunya dibawa serta. Begitu pula saat visiting, diusahakan mereka bisa kumpul di sana.
“Usia mereka rentang tiga tahun. Si sulung tamat setingkat SMP, si tengah masuk. Sekarang keduanya sudah lulus tinggal si bungsu yang masih nyantri,” ujar Mariatul lagi.
Upayanya memberikan pendidikan agama kepada tiga putrinya, melahirkan rasa syukur bagi dia dan suami.
“Alhamdulillah Si sulung kini kuliah sambil mengajar Alquran dan Bahasa Arab di SDIT. Sedang yang tengah ngajar di TK Alquran juga sambil kuliah. Di rumah kewajibannya sebagai muslimah tak perlu diingatkan lagi oleh kami. Bahkan cara berpakaian keduanya sudah meninggalkan berpakaian model celana panjang , sementara ibunya masih pakai jins,” ujar mantan wartawan Banjarmasin Post ini.
Pencapaian anak anaknya secara religi, diakui nya sangat melapangkan tanggungjawabnya sebagai orangtua, khususnya di hadapan Alloh, kelak.(uumsri)















