BANJARMASIN aktualkalsel.com–Jumat 3 Agustus 2024 menjadi Sholat Jumat pertama bagi jamaah keluarga besar Pondok Pesantren Darul Hijrah dan An Najah Putri Cindai Alus, Kab Banjar, Kalimantan Selatan, tanpa kehadiran untuk selamanya sang pendiri KH Zarkasyi.
Innalillahi wainnalillahi rojiun. Satu dari empat tokoh pelopor pesantren moderen di daerah ini, meninggal dunia di usia 72 tahun setelah selama 38 tahun membawa lembaga pendidikan Islam ini menjadi ‘ibu kandung’ yang melahirkan banyak ulama dari santri santrinya.
Ribuan pelayat menghantarkan jenazah ulama besar ini ke pemakaman yang masih berada dalam lingkungan pesantren yang dibesarkannya itu.
KH Zarkasi bukan sosok ulama biasa. Semasa hidupnya dia konsen bukan hanya pada menempa santri santriwatinya menjadi muslimin yang berkman, berilmu dan beramal handal tetapi juga membangun lingkungan yang harmoni antara kelas kelas belajar dengan alam yang hijau. Kini Pontren Darul Hijrah menjadi komplek pendidikan Islam yang rimbun dan asri.
Bukan hanya pohon yang dikembangkan untuk mengawal lingkungannya, juga aneka sayur dan peternakan ikan yang bernilai ekonomis baik. Pada 2008 berhasil mewujudkan eco-pesantren. Satu program yang mengandalkan peran pesantren untuk melestarikan lingkungan melalui pendidikan lingkungan berbasis agama.
Kiai Zarkasyi juga berhasil merehabilitasi dan memanfaatkan lahan terlantar dengan budidaya ikan patin dan tanaman buah produktif, serta melakukan pembinaan kepada masyarakat sekitar pesantren untuk berbudaya ramah lingkungan.
Selama 38 tahun itulah, bekiau mengabdikan hidupnya untuk memajukan dunia pendidikan agama yang terintegrasi lingkungan yang meskipun diakui oleh beliau untuk menjadi seperti sekarang terlalu banyak perjuangan yang telah dilalui.
Visi dan kerja tanpa pamrih ini membawa sosok bersahaja ini untuk menerima Penganugerahan Kalpataru 2021 yang diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Ibu Siti Nurbaya Bakar.
Jauh sebelum penghargaan Kalpataru disematkan pemerintah kepada sosok ini, pada 2014 Kementrian Kelautan dan Perikanan menetapkan pesantren ini sebagai kawasan Minapolitan sebuah konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan
Kini tokoh ulama dan pecinta lingkungan ini sudah tiada. Segala karya berupa harmoni lingkungan serta ilmu yang dituangkannya selama hidup di pontren ini inshaa Alloh akan menjadi amal yang tak putus. Semoga setiap nama almarhum disebut dalam tulisan ini menjadi rahmatNYA. Aamiin.(uumsri/berbagai sumber/foto net)



















