JUMAT ( 3/9/2021) pagi, aku bersama yuniorku Edwan Muhammad Aditya — dulu pernah bertugas meliput kegiatan di DPRD Banjarmasin sebelum menetap sementara di Kabupaten Tanah Bumbu — berkunjung ke rumah Dinas Bupati Tanah Laut Sukamta.
Sukamta, jauh sebelum jadi orang nomor satu di Bumi Tuntung Pandang, merupakan sahabat dekatku.
Mulai Kasubag Humas , Kabag Humas dan sejumlah SKPD di daerah itu, dan menjadi Wakil Bupati tempat yang sama hingga sekarang menjadi bupati di Tanah Laut.
Sebagai bupati, Sukamta tidak berubah. Tetap seperti dulu, sederhana, bersahabat, ramah dengan siapapun, dan tetap rendah hati.
Kebiasaan yang dulu tetap tidak berubah. Masih suka nginap di rumah-rumah wanga desa.
Ketika masuk di rumah dinas bupati hanya dua buah mobil dinas terparkir.
Satunya mobil pribadi sederhana dengan merk kebanyakan dipakai orang umumnya.
” Silakan masuk Pak, sudah ditunggu Pak Bupati,” kata ajudanya didampingi salah satu Satpol kepadaku sambil menuju pintu masuk.
Sukamta yang duduk sendiri di ruang tamu menunggu kedatangan kami, kemudian mempersilakan duduk. Tak berapa lama, menyuguhkan minum teh segar.
” Silakan minum tehnya mumpung masih hangat,” kata Sukamta sambil tersenyum.
Sebagai sahabat lawas aku dan Pak Sukamta berbicara banyak hal mulai dari kepariwisataan, pembangunan desa dengan penerangan listrik yang sudah direalisasikan, serta membangunkan kesehatan masyarakat salah satunya dengan cara membangun puskesmas- puskesmas, baik yang baru atas direhab total.
Pak Sukamta nampak begitu semangat ketika kami membicarakan soal berhasilnya desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung termasuk terpilih sebagai desa Wisata yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
” Alhamdulillah, kita berada diurutan ke 300 nasional dari 1.853 desa yang ditetapkan sebagai desa wisata,” katanya.
Di Indonesia, saat ini hampir terdapat 75 ribu desa. Dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menginginkan masing-masing desa memiliki unggulan desa wisata.
Jika desa memiliki daerah wisata, maka akan berdampak positif bagi perekonomian masyarakat di sekitarnya.
Keberhasilan desa Pagatan Besar menduduki 300, menurut Sukamta, karena daerah ini berhasil menanam mangrove.
Dari data yang ada, mangrove Pagatan Besar merupakan satu-satunya wilayah konservasi hutan mangrove di Kalimantan Selatan.
Ekowisata Mangrove Desa Pagatan Besar, saat ini semakin dipercantik dengan warna-warni.
Ada delapan gazebo dibangun untuk bersantai duduk bersila atau selonjor kaki.
Empat di daratan selebihnya di setiap dermaga.
Empat dermaga dibangun secara swadaya masyarakat bergotong royong sepanjang 100 meter mengarah ke pesisir lautan.
Yang pasti, menurut Sukamta, awalnya penanaman mangrove disuport desa dan pemerintah daerah, dan dikelola oleh Pokdarwis ( Kelompok Sadar Wisata ) dengan baik sehingga menjadi tumbuh dan berkembang.
Dulu sebelum ditanami mangrove terjadi abrasi sangat tinggi sehingga terkikis.
” Dengan ditanami mangrove, daratannya kembali lagi berkat adanya konservasi,” kata Sukamta.
Adanya tanaman manggrove selain menyelamatkan desa juga menjadi tempat wisata yang dirintis sejak 2017 hingga Pagatan Besar mendapat anugrah dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai salah satu desa wisata nasional 2021.
Perbincanganku dengan Bupati Sukamta berakhir ketika aku dan yuniorku mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Batulicin, Tanah Bumbu.
Sementara Bupati Sukamta sendiri siap-siap pergi melaksanakan sholat Jumat yang rencananya di Masjid Al Ittihad di desa Asam Jaya, Kecamatan Jorong.
A-01/Edwan




















