BANJARMASIN aktualkalsel.com–Prosesi tradisi pingit untuk calon mempelai khususnya perempuan kini terasa tak terjaga lagi di masyarakat. Larangan keluar rumah minimal sepekan jelang hari pernikahan itu tak selalu dipegang.
Haruskah calon pengantin jalani masa pingit? itulah yang dibahas nitizen setelah viral sebuah video pengantin perempuan menggunakan dua tongkat kruk untuk menyangga tubuhnya berjalan menuju pelaminan akibat mengalami patah kaki.
Kecelakaan yang membuat pengantin perempuan itu tak bisa berjalan justru terjadi pada waktu menjelang hari pernikahan. Tidak dijelaskan berapa jeda waktu antara dua peristiwa itu.

Video yang viral itu menayangkan hadirin banyak yang nyesek menyaksikan pengantin perempuan berjalan dengan dua tingkat kruk menuju sungkem ke orangtuanya yang berderai air mata karena terharu. Para undangan ikut menangis apalagi ketika menyaksikan pengantin pria harus menggedong pengantin perempuan setelah sungkeman itu menuju pelaminan.
Hanya saja ribuan nitizen yang menonton video itu menghubungkan kecelakaan menjelang nikah si pengantin dengan tradisi pingit yang belakangan memang sangat jarang dilakukan calon pengantin.
“Itulah orangtua kita dulu keras suruh calon pengantin untuk pingitan jelang pernikahannya. Kalau tetap wira wiri keluar rumah dikhawatirkan terjadi kecelakaan seperti ini,” tulis satu nitizen.
“Walau ini tradisi tetapi orangtua dulu bilang bahwa calon manten itu manis dagingan ada benarnya,” ujar yang lain.
Banyak nitizen yang setuju dengan komentar agar calon manten kembali ke tradisi pingit untuk menghindari kejadian seperti yang di video itu.
Ada juga nitizen yang menyebut kecelakaan jelang pernikahan itu justru sebagai musibah yang membawa berkah.
“Pengatin prianya lebih perhatian, gendong, jadi lebih mesra bawaannya baper,” tulis yang lain lagi.
Bagaimana? Apakah ttadisi pingit calon manten jelang pernikahan perlu dipegang?(uumsri)



















