Aktualkalsel.com – Pandemi Covid-19 bukan menjadi halangan bagi Bank Syariah Indonesia untuk menyalurkan pembiayaan Usaha Mikri, Kecil dan Menengah (UMKM). Wakil Direktur Utama 1 BSI, Ngatari menyebut kondisi Indonesia saat ini masih menghadapi situasi yang sulit akibat pandemi Covid-19, pembiayaan sektor UMKM dan segmen mikro oleh BSI terus membukukan peningkatan.

“Ini menunjukkan BSI terus berkomitmen dalam mendukung pertumbuhan UMKM di tengah badai pandemi,” ungkap Wakil Direktur Utama 1 BSI, Ngatari saat memberikan keterangan kinerja BSI kuartal II tahun 2021 secara daring, Kamis (12/8).

Dia menjelaskan hingga bulan Juni 2021, secara keseleruhan pembiayaan UMKM di BSI tercatat sebesar Rp 36,82 triliun. Capaian tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan akhir tahun 2020 lalu, yang tercatat sebesar Rp 34,99 triliun.

“Pembiayaan UMKM di dominasi oleh usaha menengah, yang mengambil porsi sebesar 14,66 persen. berikutnya disusul usaha kecil sebesar 10,76 persen dan usaha mikro sebesar 11,41 persen,” ujar Ngatari.

Ia juga menyampaikan, komposisi untuk pembiayaan UMKM di bulan Juni 2021 tercatat sebesar 22,86 persen, atau naik 46 basis point jika dibandingkan bulan Maret 2021.

“Kedepan komitmen BSI kepada sektor UMKM tidak akan luntur, kami akan terus menyalurkan pembiayaan kepada nasabah yang sehat dan sustainable,” tambahnya.

Selain menyalurkan kredit UMKM, BSI juga telah melakukan restrukturisasi pembiayaan kepada 96 ribu nasabah dengan nilai mencapai Rp 18,9 triliun.

Dari jumlah itu, sebanyak 62 ribu nasabah di antaranya (65 persen), merupakan nasabah UMKM, dengan nominal mencapai Rp 7,91 triliun. Secara umum, hingga Juni 2021, BSI mencatatkan total pembiayaan sebesar Rp 161,50 triliun atau tumbuh 11,73 persen year on year.

Pertumbuhan pembiayaan itu ditopang oleh pembiayaan mikro, gadai emas dan pembiayaan consumer. Di mana untuk pembiayaan mikro tumbuh sebesar 12,88 persen, gadai emas tumbuh 27,70 persen dan consumer tumbuh 27,38 persen.

BSI juga berperan dalam penyaluran dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), yang hingga bulan Juli 2021 tercatat mencapai sebesar Rp 2,12 triliun untuk 18.539 debitur.

“Kami menargetkan, sampai dengan 22 Oktober 2021 akan terealisasi kurang lebih Rp 45 triliun, atau leverage satu setengah kali dari penempatan dana sebesar Rp 3 triliun,” tutup Ngatari. JRH/edwan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here