M Ariffin

aktualkalsel.com – KERAP tampil dengan wajah lelah, sedikit berminyak. Senyum nya pun serius, meninggalkan kesan anak muda ‘kurang piknik’.
Sebaliknya, Muhammad Arifin, justru sudah melanglang buana negeri ini.

Sejibun penghargaan bergengsi nasional yang diraih sejak 2014 membawanya hadir dari satu forum ke forum nasional lainnya sebagai narasumber wirausaha anak muda. Berbagi ilmu. Membangun inspirasi di sana.

Tahun lalu, pria yang lahir, besar dan berkembang di kawasan padat penduduk Kelayan, Banjarmasin Selatan ini, menerima anugerah dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai Tokoh Inspiratif Nasional.

Itu karena kiprahnya yang panjang membangun kepercayaan diri di kalangan anak muda, ibu-ibu, difabel sampai para napi di lembaga pemasyaraatan. Menawarkan ide, gagasan, inovasi dan kreativitas tanpa henti, agar mandiri.

Dan, satu kepeloporan terbaru Arifin dan konco-konco adalah membagi masker gratis bagi masyarakat Kota Banjarmasin, saat dunia dihantui wabah virus covid-19. Walau bukan gagasan spektakuler, tetapi teramat padat makna dan rasa.

“Hanya partisipasi ini yang bisa kami berikan untuk mendukung pencegahan virus corona,” ujarnya merendah.

Di bawah bendera Rumah Kreatif dan Pintar Banjarmasin yang dikembangkannya, bersama tim Arifin memulai produksi masal masker kain. Bahannya sasirangan, batik khas Kalimantan Selatan, murni handmade.

Waktu itu awal-awal pendemi sampai di kota ini. Warga cemas, kemudian berburu masker. Seperti halnya di kota kota lain Indonesia, Item medis penutup mulut dan hidung itu langsung hilang dari pasaran. Kalau toh ada harganya ditawarkan selangiit. Mencekik kantong. Untuk satu lembar benda tipis itu ada yang mematok di angka 10 ribu rupiah. Padahal daya tahan pakainya masimal dua hari. Harus ganti lagi yang baru.

Pebisnis masker kain pun bermunculan, toh masih menawarkan harga di atas normal. Ibarat barang refiil, masker kain menjadi pilihan konsumen karena kotor bisa dicuci ulang.

Di tengah suasana panas pasar lembar penutup mulut, tim-nya Arifin me-launching masker kain sasirangan, produk masal. Bagai hendak melawan arus permainan bisnis masker yang gila gila-an mahal, mereka mehentak dengan harga nol rupiah alias gratis, tiis!

“Awalnya kita produksi swadaya artinya bahan diambil dari usaha rumah kreatif, penjahit-nya difabel binaan kita bersama tim kreatif. Target kami jalan dulu yang penting bisa membantu warga yang sangat menbutuhkan,” jelas Arifin.

Dari show-room mereka dikawasan Jl Perdagangan, Banjarmasin Utara, masker kain sasirangan pun diproduksi. Setiap harinya kisaran 200 -300 masker dibuat dan dibagi gratis. Sasaran utamanya masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah mencari nafkah seperti ojol, petugas kebersihan serta pencari nafkah serabutan.

Arifin dan tim mengumumkan kabar gembira ini melalui akun medsos masing-masing. Promo-nya istimewa: masker gratis dari bahan kain sasirangan pewarna alami, aman! Dengan catatan satu orang, satu masker!

Tentu saja 200 sampai 300 lembar masker itu nyaris tak bersisa setiap harinya. Antusias warga yang benar benar membutuhkan, luar biasa.

“Sungguh mengharukan, hitungan bisnis memang tidak ada , tetapi kami rasakan kepuasan lahir dan batin yang tak terbayarkan oleh apapun,” cerita alumni Fak Teknik Universtas Muhammadiyah Malang, ini.

Istimewanya lagi, walau bukan bisnis profit, produksi mereka bagai tak surut amunisi, bahkan produksinya terus meningkat secara kuantitas. Hingga akhir pekan pertama di April 2020 ini ada kisaran 5 ribu masker yang sudah mereka bagikan. Dan akan terus bertambah.

“Diluar dugaan banyak kalangan yang mensuport program bagi bagi masker gratis ini. Mereka memberikan bantuan bahan baku, kami yang menjahitnya. Alhamdulillah,” ujar pria 32 tahun ini.

Sasaran penerima nya pun kini bukan hanya ojol tetapi meluas ke petugas medis sampai jurnalis. Sementara masker terus diproduksi, itupun diakuinya, belum mampu melayani seluruh permintaan masyarakat Banjarmasin.

“Ini menjadi kendala kami. Ada kontak permintaan dari kelurahan dan kecamatan kami belum bisa memenuhinya,” ujar Arifin lagi.

Solusinya, pihak kecamatan diarahkan untuk membeli ke perajin sasiran lainnya yang memproduksi masker.

“Banyak koq perajin yang produksi masker, sambil membantu mereka,” jelasnya.

Tebar masker gratis dengan bahan kain sasirangan ini menjadi ‘value’ baru bagi keberadaan Rumah Kreatif dan Pintar Banjarmasin. Selama ini di sana banyak melahirkan aneka hasil kerajinan tangan khas Banjar mulai dari anyaman purun, kain sasirangan hingga limbah ban mobil, besi dan kayu untuk dirancangbangun ulang nenjadi produk fasyen atau mebeler dengan setuhan seni tinggi.

Siapa sosok Muhammad Arifin? Pemuda dengan seabrek prestasi nasional.
Pria yang selalu tampil dengan lebel Rumah Kreatif dan Pintar, kerap tampil seperti kelelahan ini alumni:
– SD Negeri Kelayan selatan 2
– SLTP Negeri 11 Bjm
– SMK Syuhada teknologi Banjarmasin
– D3 Politeknik Negeri Banjarmasin
– S1 universitas Muhammadiyah Malang
Profesi Insinyur Universitas Muhammadiyah Malang.

Dengan prestasi:
1. Guru Berprestasi 2014
2. Pemuda Pelopor Nasional 2015
3. Penerima apresiasi Satu Indonesia Award bidang kewirausahaan 2016
4. Penerima penghargaan Kemensos 10 besar yayasan berprestasi nasional 2017
5. Nomine free seda award 2018
6. Tokoh inspiratif Anugerah KPAI 2019
7. The best Inovasi Pemberdayaan Masyarakat
Kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak tahun 2019
8. Perwakilan provinsi kalimantan selatan sebagai wirausaha muda Syari’ah Bank Indonesia 2019. Uumsri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here