Fatma di lingkungan Bank Sampah Induk Banjarmasin

 

JABATANNYA mentereng: direktur operasional sebuah bank . Bertahun tahun sudah posisi penting itu dipercayakan padanya.

Walau demikian, perempuan paruh baya ini, tetap menjalankan rutinitas kedinasannya dengan bersaja, seperti hal fasilitas kendaraan ‘dinas’ yang diperolehnya: tossa!

Koq tossa?! Kendaraan semi roda dua dan bajay.

“Kendaraan dinas untuk operasional memang tossa. Ada beberapa buah, ada juga pikap,” ujar Fatmawati, direktur operasional bank tersebut. Semua dia mampu mengoperasionalkannya.

Tossa dan pikap ini andalan gerak perbankan yang ikut dibesarkannya yaitu bank sampah induk Banjarmasin di kawasan HKSN, Alalak Utara, Banjarmasin Utara.

Disitulah ibu dua anak yang gemar bermain musik ini, melaksankan tugas operasionalnya sebagai relawan lapangan. Kecuali hari Minggu.

“Minggu sore jadwal saya dan relawan sampah lainnya membuka layanan nasabah di bank sampah Kenanga, Kompleks Mahligai, Jl Sultan Adam,” ceritanya.

Kalau di bank sampah induk dia dipercaya sebagai direktur operasional, maka di bank unit dekat kediamannya, dia bersama beberapa relawan mengelola layanan nasabah yang lebih kecil. Lingkungan komplek.

Tentang kendaraan ‘dinas’ tossa, menurut Fatmawati, digunakan untuk jemput sampah terpilah dari bank sampah unit se kota Banjarmasin.

“Kita gunakan tossa atau pikap tergantung volume barang yang dijemput,” ujar perempuan super aktif di berbagai kegiatan sosial lingkungan hidup ini.

Sampah terpilah yang dijemput dari bank bank sampah unit itu dikumpulkan di bank induk, untuk menunggu para vendor atau pedagang besar yang akan berstransaksi. Mengubah sampah jadi rupiah. Itulah segmentasi perbankan yang dikelola Fatma dan rekan.

Berbeda suplai barang di bank induk yang bergulir dinamis setiap hari kerja, di bank unit kenanga, layanan nasabah dibuka hanya setiap Minggu sore tidak jauh dari rumahnya. Tempatnya teduh dan bersih. Bukan hanya pohon ekonomis yang menaungi lokasi itu tetaoi ada ratusan jenis tanaman pot juga hadir.

Di sini nasabahnya mayoritas ibu ibu dan remaja. Volume sampah yang disetor pun sedikit.

“Sebatas sampah rumah tanggga yang sudah dipilah,” ujarnya.

Sampah dari nasabah itu dicatat dalam buku tabungan kemudian dinilai dengan rupiah. Tiap jenis sampah beda nilainya. Dikumpulkan bila sudah lumayan nilainya baru nasabah mengambil uangnya.

“Sampah yang bisa dikurs dengan rupiah hanya yang sudah dipilah. Yang organik dibedakan dengan yang non. Nasabah sudah paham koq,” ujarnya.

Kepada para nasabah, Fatmawati memberikan bimbingan cara memilah dan mengenaki sampah mana yang bernilai tinggi mana yang tak bernilai. Sebuah misi yang tidak mudah, memang.

Toh dia nengaku selalu welcome dengan siapa saja yang hendak belajar mengubah sampah jadi rupiah. Di bank sampah Kenanga yang dibinanya, bukan hanya tetangga yang belajar tetapi juga para tamu pemerintah daerah yang studi banding, bahkan mahasiswa atau relawan lingkungan mancanegara.

Setelah belasan tahun menggeluti perbankan sampah ini, kini Fatma tercatat sebagai salah satu relawan sampah militan. Yang namanya relawan tentu jangan bicara tentang duit atau keuntungan. Relawan menuntut keikhlasan.

“Yang paling sulit itu menyadarkan masyarakat perlunya memperlakukan sampah dengan bijak. Jangan dibuang sembarangan, dikumpulkan dipilah, lalu bawalah ke bank bank sampah unit terdekat. Bisa dikurs dengan rupiah lo. Memang kursnya kecil, namanya juga sampah. Benda rongsokan, bau dan kotor yang patutnya dibuang,” kata kata bijaknya demikian.

Salutnya, Fatma setia dan bangga dengan profesinya. Dikerjakan tanpa bosan. Kalau pun sekarang berujung pada prestasi itu adalah bonus.

Baru baru ini, bank sampah Kenanga yang diototinya mendapat bantuan berupa mesin pencacah plastik tang nilainya kisaran puluhan juta rupiah. Sayangnya mesin itu belum mampu dioperasikan.
“Kapasitas tabungan sampah kami belum mencukupi untuk ke arah cacah plastik, yang ada baru cacah kompos,” ujarnya. Uumsri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here