INI-kah paudhuannya (tenpat wudhu-nya), ujar remaja berpenampilan rada-rada punky –serba hitam dan ketat pake anting– ini sambil menunjuk sebuah galon bertombol kran yang disandarkan di sela batang pohon rindang kawasan Taman Hijau Kamboja Banjarmasin, pada Minggu pagi.

Dengan air seadanya, wudhunya tertib. Hanya saja, giliran membasuh kaki gerakannya agak lambat. Karena harus melepas sandal lalu mengosok gosok jemari kakinya yang penuh sentuhan tanah dan debu.

“Qiblatnya mana yuu,” ucapnya pelan seolah pada dirinya sendiri.

Dia hendak menutup wudhu nya dengan berdoa menghadap qiblat, namun keburu beranjak karena diolok olok tiga temannya yang berdiri tak jauh.

Karena jadi olokan ‘punk’ lainnya, sempat membuat remaja ini hendak membatalkan niatnya ikut ngaji bersama puluhan ‘santri dadakan’ yang ikut di gelaran Lapak Ngaji -nya Forum We Inspire Banjarmasin setiap Minggu pagi dua kali dalam sebulan.

Dengan bahasa remaja, relawan We Inspire meyakinkannya untuk tetap mau mencoba mengaji. Dan berhasil.

“Nama ulun Abdi,” ujarnya ketika memperkenalkan diri sambil menjabat tangan ustadz yang duduk bersila di hadapannya, sebekum mengaji.

Dibimbing ustadz, remaja punky itu melafalkan bacaan huruf hijaiyah yang menjadi panduan dasar mengaji yang baik dan benar.

Pada lembaran pertama dia khusyuk menirukan lafal ustadz, ketika hendak masuk ke lembaran berikutnya dia menoleh ke belakang dan tidak menemukan rekan pungky-nya yang lain. Cepat dia menolak tawaran ustad untuk membaca lembaran lanjutan.

“Tidak usah, cukup.. ,” ujarnya langsung berdiri meninggaljan ustad untuk bergabung dengan rekan rekan lainnya yang bergerombol sambil menertawakan Abdi dari kejauhan.

“Paling tidak dia sudah mau memulai mengaji, mudahan Minggu akan datang dia bergabung lagi bersama kita ,” ujar sang ustad berharap.

Abdi hanya salah satu ‘anak punk’ yang kerap hilir mudik di taman itu setiap hari libur. Dengan pendekatan friendly diseru relawan untuk mengaji di sela sela hura-hura mereka.

Bermula dari Abdi seorang, para relawan itu optimis akan bergabung lagi ‘abdi abdi’ lainnya pada kegiatan lapak ngaji berikutnya.

Kegiatan lapak ngaji di Taman Hijau Kamboja itu sudah berlangsung sejak Maret 2019. Berkat ikhlas dan sabar seruan yang dikumandangkan melakui toak, kini ada puluhan ‘santri dadakan’ yang bergabung. Dari anak anak, orang tua dan kini asa Abdi sebagai pemula mewakili anak punk yang kerap nongkrong di sana. Uumsri

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here