TEMBAKAN GAS AIR MATA -- Polisi mengejar mahasiswa dengan menembakan gas air mata, Senin ( 30/9/2019 ) malam. ( foto/ sukrie )

JAKARTA — Jika selama ini aku hanya melihat bentrokan polisi dengan mahasiswa yang menolak UU KPK dan RUU KUHP hanya lewat televisi dan sosmed, kali ini aku melihat dengan mata kepala ku sendiri.

Unjuk rasa yang dimulai dari pagi hingga malam hari. Di beberapa ruas jalan terjadi bentrok antara mahasiswa dengan polisi.
Termasuk di muka Best Western Hotel, tempat aku menginap Jl Asia Afrika.
Di jalan ini terdapat gedung- gedung megah, seperti Senayan City dan hotel, hotel mentereng, awalnya tenang. Demikian juga arus lalu lintas terkendali.
Aku bersama Rony Azhar, baru keluar hotel untuk mencari makan.
Kebetulan tidak jauh dari BW ada penjual nasi goreng, bebek goreng, dan sate.
Aku pesan sate, Rony pesan bebek goreng. Sambil menunggu pesanan kami duduk di kursi pedagang. Memesan dua air mineral.

Tiba- tiba dari arah kanan Jl Asia Afrika, seperti bunyi kembang api berkali- kali.
Aku melihat sejumlah ratusan anak muda bergerak mendatangi suara itu.
Beberapa saat kemudian, mereka berlarian karena ditembaki polisi dengan gas air mata menggunakan empat buah mobil.

Tidak hanya itu, pasukan polisi lainnya juga tetap mengejar mahasiswa.
Dan entah bagaimana polisi- polisi itu mendatangi warung makan yang kebetulan aku juga ada di sana.
Sambil berteriak , oknum polisi menyebut anjing bangsat kepada orang yang sedang makan, dan yang masih menunggu pesaanan.
” Tadi demo , kamu demo di gedung DPR sekarang pura- pura makan,” teriak seorang polisi.

Kejadian malam ini, merupakan pengalaman luar biasa bagiku karena melihati sendiri polisi menembakan gas air.

Akibat tembakan gas air mata, dan percikannya membuat mataku terasa perih. Nafasku sempat tersengal setelah tercium gas air mata.
Mataku perihnya mulai berkurang, setelah seorang anak muda memberiku air meneral. ” Ini air pak, usapkan di muka, terutama mata bapak supaya perihnya berkurang,” kata orang itu.

Kukira setelah itu polisi terus berlalu, ternyata tidak. Mereka terus merengsek ke dalam warung. Dan menangkap orang yang dicurigai diwarung makan.

Dengan menahan rasa perih di mata akibat percikan gas air mata, aku masih melihat betapa bengisnya oknum polisi memukuli mahasiswa yang tertangkap. Mereka diperlakukan sebagai teroris. Sukrie

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here