Rahmi di tempat jualannya. ( foto/ sukrie )

BANJARMASIN AKTUAL — Rintik hujan membasahi sebagian bajunya, namun tidak diharaukan. Perempuan muda ini itu tetap menggoreng irisan tahu, setelah masak kemudian mencampurnya dengan bumbu khusus.

Dan sebelumnya Rahmi juga memblender es yang dicampur bubuk minuman aneka rasa untuk diberikan kepada pembeli.

DR Anhar Yani, dosen S1 dan S2 STIA Bina Banua Banjarmasin.

Perempuan itu bernama Rahmi, mahasiswi STIA Bina Banua Banjarmasin jurusan Administrasi Bisnis STIA Bina Banua Banjarmasin, yang berjualan pop es disamping kanan kampus persis berseberangan dengan Masjid Madani Bina Banua.

” Tidak apa om, basah sedikit, yang penting gorengan masak. Dan ulun ( saya, red ) sudah terbiasa seperi ini,” katanya kepada AKTUAL, Jumat ( 1/3/2019 ).
Rahmi mengungkapkan, modal yang digunakan berjualan pop es bersumber dari dana bidik misi yang dia terima.

” Dana yang ulun terima setiap enam bulan sekali. Sebagian dipergunakan untuk keperluan lain juga untuk modal berjualan pop es,” kata anak tertua dari lima bersaudara.
Dengan menggunakan meja berukuran setengah kali satu meter setiap hari Rahmi berjualan. Pelanggannya anak- anak SMK Bina Banua.

Sebelum berjualan pop es, rahmi — yang saat ini sudah semester VI — berjualan cappucino, bubuk lima rasa dengan harga Rp5000 pergelasnya.

Berjualan jenis minuman ini tidak bertahan lama. Hanya kurang lebih tiga bulan. Karena kurang laku.

Akhirnya Rahmi ganti ” menu”, jualan pop es. Dan jualan ini lebih laku dari sebelumnya.
Dari pagi hingga sore hari, menurut Rahmi lakunya Rp30.000 – Rp50.000. Kalau hari Sabtu, lakunya bisa mencapai Rp150.000 – Rp300.000, karena banyak mahasiswa kelas khusus yang kuliah.

Dari hasil berjualan Rahmi bisa menabung, dan tabungan itu setiap bulannya dipergunakan untuk bayar hutang di warung.

” Untuk keperluan hidup sehari- hari, seperti beras, mama kan ngutang dulu di warung. Nah, dari duit nabung itu digunakan untuk banyar hutang,” katanya.
Maklum, kata Rahmi, pekerjaan ayahnya hanya penjaga malam di kampung, dan sebelumnya penarik becak.
Penghasilan ayahnya sebagai penjaga malam tidak cukup memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Karena itu Rahmi ikut berjuang bagaimana membantu memberi uang saku adik-adik ketika turun ke sekolah. ” Uang dari jualan pop es, tahu, dan tela -tela, alhamdulillah bisa bantu uang saku adik- adik,” ungkap Rahmi yang bercita -cita ingin menjadi pengusaha sukses.

DR Anhar Yani, pengajar S1 dan S2 di STIA Bina Banua Banjarmasin mengaku sangat bangga dengan Rahmi yang sudah berwirausaha.

Menghadapi tantangan kedepan, kata Anhar Yani, mahasiswa harus disiapkan mempunyai kemampuan melihat peluang usaha ke depan, sehingga ketika lulus mereka bisa membuka lapangan kerja sendiri.
” Tidak berharap jadi karyawan ataupun PNS ketika lulus kuliah,” demikian Anhar Yani. SKR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here