Foto Net

WAKTU sekira satu jam menjelang Solat Zuhur ketika rombongan kecil tur reliji PT Kaltrabu Indah Banjarmasin memasuki pusat Kota Badar, 130 kilometer dari Madinah, Saudi.

Kami baru saja menziarahi dua tempat bersejarah di masa awal Rasulullah hijrah ke Madinah: Padang pertempuran Badar serta sumur suci kedua setelah zamzam di Mekkah! Awal Maret tahun lalu.

Tujuan utama mencari kuliner untuk maksi alias makan siang.

Kota Badar seolah ‘masih tidur’ lengang. Toko toko belum menunjukkan geliat ekonominya, setelah putar-putar mobil mewah yang mengantarkan kami berhenti di deretan toko yang masih tutup. Untung, satu di antaranya pintunya terbuka.

“Ini kedai Mahmoud, menyediakan kuliner khas padang pasir: nasi mandii,” ujar guide kami.

Saya kira toko, memang ada tulisan dengan huruf cukup besar dibagian depan bangunannya, namun karena menggunakan aksara dan bahasa Arab maka gagal paham lah.

Kedai uniiik!!

Kami masuk keruangan ukuran sekitar 4 meter x 4 meter. Sepertiga di antaranya digunakan untuk kegiatan dapur, lalu ada ruang wastafel dan sisanya untuk makan pembeli.

Melihat kami bertujuh –empat perempuan dan tiga pria– pelayan kedai tidak langsung memperilakan perempuan duduk walau ada satu meja bundar lumayan besar dengan lima kursi.

Tetapi … jreeeng!!! Dia membuka tirai sederhana yang ada di ruangan itu. Maka tampaklah bale beralas karpet.

Ou, ou … ternyata itu ‘room’ untuk perempuan makan. Dan tirai cepat ditutup oleh pelayan tadi begitu kami lesehan.

Pembeli yang makan di tempat dipisahkan oleh tirai –mirip gorden pintu–antara pria yang duduk di kursi dan perempuan yang berselimpuh.

Satu yang paling mengesankan makan disini adalah rasa nasi mandii yang maknyuzz habis. Beberapa hari sebelumnya kami dijamu makan siang oleh pengusaha Kota Taif juga dengan menu nasi mandii, namun tak sesempurna di Kedai Mahmoud ini, rasanya.

Tidak ada rasa rempah yang ‘nendang’ di nasinya, hingga cocok di lidah nusantara. Justru mata ini terpana dengan tampilan butir butir nasi berwarna agak jingga yang ukurannya panjang nan langsing. Sekirar dua kali panjang beras unus mutiara gambut.

Satu nampan nasi mandii disuguhkan, di bagian atas ditutup dengan seekor ayam panggang ukuran jumbo yang dibelah. Aroma maknyuzz langsung tercium dari warna kuning gading dan beberapa bagian kehitaman proses panggang. Plus acar ‘hidup’ karena tanpa air cuka yang terdiri dari timun muda dan bawang union dipotong potong hingga memunculkan garis jelas warna bawang ungu dan putih. Tak ketinggalan lombok jenis japlak hijau.

Sesaat kami menunggu piring yang ternyata tak kunjung datang, hingga tersadar sendiri ala makan padang pasir: syaprah!!

Alias makan bersama satu nampan berempat tanpa sendok.

Inilah satu paket nasi mandii makan siang kami yang istimewa. Istimewa rasa nasinya yang harmonis, berikut ayam panggang penuh rempah garing namun renyah.

“Nasi ini digoreng atawa dikukus layaknya nasi samin? Ada
Mirip miripnya,” bisik ibu anggota DPRD Teweh yang ikut rombongan tur kami.

Maka ketika harus cuci tangan di wastafel, saya melongok ke dapur Kedai Mahmoud yang dikawal seorang chef tua dibantu dua pemuda.

Sebuah wajan besar bersekat dua –seperti sekat panci pedagang pentol– sebagian berisi nasi putih sebagiannya nasi mandii siap saji. Wajan dilengkapi tutup lipat yang dibuka seoenuhnya atau hanya separo.

Asiikk untuk diamati. Namun sayang si chef tua itu agak unhappy dengan kehadiran pandangan saya ke arah isi dapurnya. Cepat cepat wajan ditutup , tuupp , rapat. Menyimpan curiga.

Persis gaya seorang murid sekolah dasar yang menutup lembaran jawaban ketika ulangan berlangsung, takut dicontek teman satu bangku. Justru lucuu.

Tapi inilah masi mandii yang paling sempurna rasanya dari tiga kali kesempatan menikmati di Tanah Arab. Nasi mandii ori dari asalnya padang Badar. Rasa dan suasana kedainya yang memorabel. Ngangeni.
Umi sri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here